Arsip untuk Mei, 2008

Beting Es Arktik Retak Sepanjang 16 Kilometer

Senin, 26 Mei 2008 | 16:19 WIB

JAKARTA, SENIN – Bukti-bukti terganggunya lapisan es di Kutub Utara akibat pemanasan global terlihat dari retakan baru pada beting es Arktik. Retakan tersebut baru diketahui pada ekspedisi terakhir yang dilakukan para ilmuwan bersama militer Kanada.

Jalur retakan yang panjangnya lebih dari 16 kilometer terlihat di Ward Hunt yang merupakan salah satu kawasan beting es terbesar di sana. Meski belum terlihat pergerakan, retakan tersebut dapat memicu terpisahnya beting es ke lautan bebas saat musim panas.

“Saya sangat terkejut melihat retakan baru ini,” ujar Derek Mueller, ilmuwan dari Universitas Trent, Kanada. Ia mengatakan hal tersebut merupakan proses pemecahan beting es seperti sebuah jigsaw meskipun potongan-potongannya masih saling berikatan dan belum terpisah.

Jika proses pemecahan ini terus berlangsung bukan mustahil potongan-potongan tersebut akan tercerai-berai. Tahun lalu, Pulau Es Ayles yang merupakan beting es raksasa seluas Kota Manhattan telah pecah menjadi dua. Masing-masing potongannya kini telah bergerak sejauh 640 kilometer ke arah selatan dari posisi sebelumnya.

Tahun lalu juga tercatat sebagai rekor melelehnya es Arktik. Jumlah es yang tersisa sepanjang musim panas tahun lalu 23 persen lebih kecil dari rekor sebelumnya. Semua ilmuwan saat ini tengah memantau dampak yang terjadi di kutub utara pada musim panas tahun ini.<!–
D(["mb","\u003c/font\u003e\u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp\u003e\u003cspan lang\u003d\"DE\"\u003e\u003cbr\u003e\u003c/span\u003e\u003cfont size\u003d\"3\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e\u003cb\u003eWAH\u003c/b\u003e \u003cbr\u003e\u003c/font\u003e\u003c/font\u003e\u003cb\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:8.5pt;color:#999999;font-family:Arial\"\u003eSumber : BBC\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003cbr\u003e\u003cbr\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cpre\u003eThis email was Anti Virus checked by Astaro Security Gateway. \u003ca href\u003d\"http://www.astaro.com\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003ehttp://www.astaro.com\u003c/a\u003e\u003c/pre\u003e\n\n\u003c/p\u003e\n \u003c/div\u003e \n\n \n \u003cspan width\u003d\"1\" style\u003d\"color:white\"\u003e__._,_.___\u003c/span\u003e\n \n \u003cdiv\u003e\n \u003cspan\u003e\n \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/Energy_Troops/message/2676;_ylc\u003dX3oDMTM1OTZkYmo0BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0MjIyNjQ3BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MDY4MgRtc2dJZAMyNjc2BHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTIxMjAzMDU4OQR0cGNJZAMyNjc2\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003e\n Messages in this topic \u003c/a\u003e (\u003cspan\u003e1\u003c/span\u003e)\n \u003c/span\u003e\n \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/Energy_Troops/post;_ylc\u003dX3oDMTJxOThtcHE0BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0MjIyNjQ3BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MDY4MgRtc2dJZAMyNjc2BHNlYwNmdHIEc2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTIxMjAzMDU4OQ--?act\u003dreply\u0026amp;messageNum\u003d2676\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003e\n \u003cspan\u003e\n Reply \u003c/span\u003e (via web post)\n \u003c/a\u003e | \n \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/Energy_Troops/post;_ylc\u003dX3oDMTJmdjNlYXJlBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0MjIyNjQ3BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MDY4MgRzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzEyMTIwMzA1ODk-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003e\n Start a new topic \u003c/a\u003e\n \u003c/div\u003e \n \n \n \u003cdiv\u003e\n \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/Energy_Troops/messages;_ylc\u003dX3oDMTJmc3FqcnJwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0MjIyNjQ3BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MDY4MgRzZWMDZnRyBHNsawNtc2dzBHN0aW1lAzEyMTIwMzA1ODk-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003eMessages\u003c/a\u003e \n \n \n \n \n \n | \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/Energy_Troops/members;_ylc\u003dX3oDMTJmYWFoMDE1BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0MjIyNjQ3BGdycHNwSWQDMTcwNTA2MDY4MgRzZWMDZnRyBHNsawNtYnJzBHN0aW1lAzEyMTIwMzA1ODk-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003e",1]
);

//–>


WAH
Sumber : BBC

Komentar bertahan »

Kecemasan Kian Membumbung, Dibalik Aksi Menolak Kenaikan BBM

(berpolitik.com): Ketegangan diam-diam mulai merayap. Informasi demi informasi dari jam ke jam berseliweran. Semuanya membumbungkan kecemasan, terutama sekali di kalangan pengusaha yang memang gampang risau.

Bagaimana tak risau jika isi informasinya bikin pening kepala. Sebuah pesan singkat (sms), misalnya, mengingatkan agar mobil-mobil mewah tak seliweran antara 31 Mei – 7 Juni. Soalnya, bakal jadi sasaran di-pilox oleh aksi-aksi massa yang menentang kenaikan harga BBM.

Selengkapnya baca di http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=12728&c_id=1&param=N0ccXZlxt5jVTVsI9×6v

Komentar bertahan »

PSB PADANG ON-line

PadangKini.com | Kamis, 29/5/2008, 17:05 WIB

PADANG–Dinas Pendidikan Kota Padang mempersiapkan 63 petugas yang disebar kepada 32 warung internet untuk pendaftaran siswa baru (PSB) secara online.

………..

untuk lengkapnya klik. padangkini.com

terimakasih.

marzuni

Komentar bertahan »

Romo Ruedi Hofmann meninggal

Rekan-rekan,
Pada tanggal 29 Mei lalu, saya mendapat kabar dari mas Surowo jika Romo Ruedi Hofmann telah meninggal dunia di Swiss. Bagi saya, kepergian Beliau merupakan suatu kehilangan besar. Boleh dikata, selama ini Beliau bekerja dalam sunyi, tidak suka publisitas, walau Beliau adalah ahli komunikasi sosial. Beliau dimakamkan di Timor Leste (Timor-Timur) , tempat Beliau terakhir berkarya.
Jika rekan-rekanbelum pernah mengenalnya, beliau ini adalah tokoh pendiri Studio Audio Visual Puskat di Yogyakarta. Lembaga ini telah berkembang menjadi ‘laboratorium’ media untuk rakyat. Banyak orang telah belajar dari Beliau baik langsung maupun tidak langsung, terutama semangat untuk memberdayakan rakyat pedesaan lewat media komunikasi. Desa media (village media) Balai Budaya Minomartani yang pernah digagasnya saat ini berkembang bersama rakyat setempat dengan berbagai aktivitas budayanya. Radio Balai Budaya Minomartani (Radio BBM FM) yang sebagian di antara kita mengenalnya dengan baik merupakan salah satu aktivitas komunikasi masyarakat di desa media tersebut.
Ide tentang perlunya masyarakat diberikan kesempatan untuk menyuarakan kepentingannya lewat media sudah digagas sejak lama. Pada tahun 1993, beberapa rekan praktisi radio, di antaranya mas Kusuma, diundang untuk mendiskusikan tentang ‘peluang’ mendirikan radio untuk rakyat. Namun pada saat itu situasi politik di bawah Soeharto tidak mengijinkan adanya radio rakyat ini. Sebagai strategi untuk mengatasinya dilakukan dengan mendirikan ‘gubuk rekaman’ yang dipakai masyarakat untuk memproduksi acara2 budaya di Minomartani yang kemudian dipancarkan ke publik dengan kerjasama dengan sebuah radio komersial di Yogya. Ternyata ide-ide serupa juga dikembangkan oleh rekan-rekan di daerah lain.
Saat ini, ide dan inisiatif untuk memberi ruang untuk rakyat bersuara telah bersemi di banyak tempat oleh rekan2, sebagai bagian dari perjuangan mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Selamat jalan Romo
Anton Birowo

Komentar bertahan »

BPPT Siapkan Migrasi TV Analog ke Digital

Jakarta (ANTARA News) – BPPT sedang mempersiapkan migrasi pemancar siaran TV dan perangkat televisi analog ke era digital yang ditargetkan rampung pada tahun 2015 untuk seluruh Indonesia.

“Sekarang ini seluruh dunia arahnya ke sana, bahkan AS sudah seluruhnya digital, tidak ada lagi siaran analog,” kata Kabid Sistem Komunikasi Multimedia Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT Dr Hary Budiarto di Jakarta, Selasa.

Saluran TV analog yang menggunakan gelombang UHF, ujarnya, hanya mampu digunakan oleh maksimal 14 kanal stasiun pemancar TV, yang jika dipaksakan maka terjadi interferensi yang membuat suara dan gambar yang ditampilkan menjadi rusak.

Data saat ini di Indonesia terdapat 11 TV berizin siaran nasional, 97 TV berizin regional, 30 TV berlangganan (60 persen TV kabel, 20 persen satelit dan 20 persen Terestrial) serta ada sekitar 300 izin baru yang tak terlayani karena sudah tak tersedia lagi kanal TV.

Sementara itu, dengan siaran TV digital, setiap satu kanal yang lebarnya 7-8 MHz bisa dipakai oleh enam program siaran TV, sehingga selain terjadi optimasi frekuensi juga optimasi bandwidth.

Siaran TV Digital, katanya, juga memiliki kelebihan lain seperti dimungkinkannya konten aplikasi lebih banyak untuk kemampuan berinteraktif.

“Misalnya untuk acara American Idol, penonton di rumah cukup berinteraksi melalui TV digital, bandingkan dengan di Indonesia yang harus menggunakan SMS,” katanya.

Pemilik TV digital juga bisa berinternet dengan menggunakan TV digitalnya, tambahnya.

Untuk menuju era TV digital ini, BPPT akan merampungkan alat yang disebut “set-top-box” pada Juni 2008 sebagai prototipe untuk diproduksi massal. Alat ini dibutuhkan masyarakat untuk menangkap siaran digital tanpa harus membeli TV digital yang mahal.

“Sebenarnya Polytron (pabrik peralatan elektronika dalam negeri -red) sudah memproduksi TV digital dan siap meluncurkannya jika kita sudah migrasi ke siaran TV digital. Sayangnya, era ini masih 10 tahun lagi,” katanya.

BPPT, tambahnya, juga sedang mengembangkan pemancar siaran TV digital dengan standar yang sudah ditetapkan secara nasional yakni DVB-T serta menyusun spesifikasi teknis perangkat sistem siaran TV digital untuk standar nasional Indonesia (SNI) bekerjasama dengan Depkominfo.( *)

COPYRIGHT © 2008

Sumber : http://www.antara. co.id/arc/ 2008/5/27/ bppt-siapkan- migrasi-tv- analog-ke- digital/

Komentar bertahan »

KONGRES TV KOMUNITAS

Komentar bertahan »

Longsoran dan Danau, Akibat Gempa dan Patahan

Longsoran dan Danau, Akibat Gempa dan Patahan

9 Agustus 2006 at 3:32 pm | In Dongeng Geologi |

strikeslip1a.jpgGoyangan gempa yg dirasakan di jogja tidak hanya merusak bangunan tetapi juga merubah topografi atau bentuk rupa bumi. Daerah-daerah berlereng curam yg dalam kondisi kritis menjadi tempat-tempat berbahaya ketika terjadi goyangan gempa. Waktu simposium internasional kebumian awal Agustus 2006 lalu Ibu Dwikorita ‘Longsorwati’ (looh beliau kan ahli perlongsoran hingga meraih Phd loh) menjelaskan didalam simposium ahli kebumian dunia di Jogja awal Agustus lalu. Tapi tulisannya bahasa dewa, aku critanya pakai gambar kartun dan bahasa Tarzan saja ya … )

Eh bisa membentuk danau, ngga ? :p

Longsoran yg dipicu gempa.

lereng.jpgGambar disebelah ini memperlihatkan tempat-tempat yg memilki lereng curam. Peta ini dibuat oleh BAISDA Jogja (Badan Informasi Daerah). Perhatikan warna merah merupakan daerah yg lerengnya curam, sedangkan warna hijau daerah yang landai. Di bagian tengah ada kotamadya Jogja dan Bantul berwarna hijau, artinya lerengnya landai kurang dari 8% atau kurang dari 5 derajat. Di sebelah timur dan barat berupa perbukitan dengan lereng curam.

longsoran.jpgNah sekarang dibandingkan dengan peta longsoran yg ada. Coba perhatikan lokasi longsoran yg dijumpai oleh Bu Doktor Rita ‘Longsorwati’ ini. Ternyata dibagian timur pegunungan ini terpadat longsorannya. Sedang di bagian barat tidak dijumpai longsoran. Ingat nggak ? beberapa tahun lalu Bu Rita ini juga menangani longsoran di daerah Kulon Progo, namun alhamdulillah, kali ini di Kulon Progo aman dari bencana longsor yg dipicu gempa. Kenapa hayoo ? Iya karena longsoran di Kulon Progo dipicu oleh curah hujan yg tinggi !

OK, kita tengok lagi gambar di atas. Terlihat bahwa memang longsoran (Rock Slide) serta jatuhan (Rock Fall) banyak sekali terjadi pada lereng-lereng yg kritis ini disekitar pusat gempa. Dengan demikian kita tahu bahwa longsoran-longsoran itu memang benar dipicu oleh gempa. Di Pantai Parag tritis anda dengan mudah melihat jatuhan (rock fall) di dinding bukit sebelah timur pantai.

Longsoran yg menyebabkan rumah turun hingga 8 meter !

Mungkin ada yg bertanya-tanya, bagaimana longsoran ini terjadi ? Aku yakin, trus ada yang pingin tahu apakah tanah yg turun ini bisa membentuk danau akibat tanah yg turun ini ? Loh wong contohnya memang ada kok. Di sepanjang patahan Sumatra terdpat dua danau besar yg sangat terkenal akibat pergeseran patahan Sumatar. Jangan-jangan diJogja juga begitu nantinya.

Jangan kuwatir, ketakutan anda memang wajar kok. Lah wong ada rumah yg turun hingga 8 meter dan begeser lebih dari 20 meter je. Apa ndak itu menunjukkan bahwa tanahnya turun ?

Sekarang, mari kita lihat penampangnya. (klick aja kalau mau memperbesar gambarnya, ya).

slidingDisebelah ini memperlihatkan penampang (atau kalau dilihat dari pinggir), bagaimana terjadinya turun dan bergesernya rumah hingga 8 meter vertikal dalam waktu sekejap. Lah, kalau terbentuk danau dalam sekejap lah ya medeni lan nggegirisi ta ya … menakutkan juga, kan ?

Nah dari penampang tersebut terlihat bahwa adanya bidang luncur (slide surface), juga terlihat adanya rekahan-rekahan dibagian atas. Ini jelas sekali menujukkan bahwa turunnya rumah tersebut sebenernya memang menurunnya permukaan tanahnya akibat bergeser sambil turun akibat longsoran. Disitu terlihat bahwa rumah yg diatas turun, iya hingga 8 meter dan bergeser hingga 20 meter. Wah itu halaman rumahnya tambah luas donk .. upst !

Coba perhatikan bahwa rumah yg berada dibawah lereng yg curam rawan longsor juga berbahaya tertimpa timbunan tanah.

Looh kan longsoran itu terjadi disekitar patahan Opak juga , kan ?
Iya memang, tetapi longsoran tersebut bukan pada bidang-bidang patahan yg ada di sekitar Opak. Sehingga penampang-penampang ini akan mirim dijumpai dibeberapa tempat di pinggiran lereng-lereng curam yg terlihat dalam peta (gambar) diatas itu.
Tapi kan deket dengan patahan kan ?
Duh, pasti banyak yg khawatir dengan patahan sepanjang Sungai Opak ini kan ?

eh, sebenernya yg bergerak itu bukan patahan sepanjang opak, Nanti saya tuliskan ditempat lain tentang patahan dan gempa-gempa ini dari buntut gempa yg diteliti ahli geofisika dan erthquake geologist ini di artikel tentang “buntut gempa” (after shock).

Jadi yg seperti apa patahan yang membentuk danau ?

strikeslip1a.jpg Patahan yg membentuk danau di Sumatra berupa patahan geser (strike slip). Patahan geser ini tentusaja tidak lurus seperti garis. Patahan ini dapat berbelok-belok. Apabila belokannya stepping atau loncatannya ke kanan seperti yang terlihat di gambar samping, maka ada bagian-bagian tertentu, di tempat belokan itu, akan membentuk graben atau cekungan. Graben atau cekungan inilah yg kalau terisi air maka akan membentuk danau.

strikeslip2.jpgDisebelah ini kalau saya potong penampang diatas sesuai garis A-B. Maka terlihat profil dari danau yg terbentuk akibat patahan geser. Danau di Sumatra yg terbentuk akibat patahan geser sumatra ini yg terkenal adalah Danau Singkarak dan danau Ranau. Wah bagus dan indah looh kedua danau ini. Dan jangan kaget, danau Singkarak ini memiliki kedalaman hingga 268 meter !!. Bayangkan kedalaman laut jawa itu maksimum mungkin 30-50 meter saja.

Patahan Opak, sependek pengetahuanku, bukanlah patahan geser tetapi patahan normal atau patahan turun, dimana daerah jogja-bantul merupakan daerah yg turun. Yang tidak turun itu daerah perbukitan Wonosari, yang kalau dari parang tritis jelas banget terlihat tebing-tebingnya.

Gimana ?
Beda kan ? pembentukan danau dengan longsoran yg terjadi di Bantul kemarin tidaklah sama. Buat kawan-kawan di Bantul jangan takut Kota Bantul tenggelam, buat kawan di Sumatra anda beruntung memiliki danau yang indah. Namun kawan saya semua di Sumatra maupun Bantul tentunya harus tetap wasada dengan bahaya gempa yg dipicu longsoran.

Skalian ngingetin tetang bahaya longsoran ya, aku ambil dari selebarannya dari LIPI, Bulan-bulan ini merupakan bulan yg penting karena kondisi curah hujannya :

  • Juli = Perhatian pada awal musim hujan
  • Agustus dan September = pemeliharaan lingkungan
  • Juni dan Oktober = Waspada
  • Mei dan November = Bahaya
  • Desember sampai April = AWAS !

Referensi :

  • Dwikorita Karnawati And Teuku Faisal Fathani, 2006, Mechanism And Impact Of Earthquake Induced Landslides In Yogyakarta Province, Indonesia.
  • –, Atlas Kawasan Gempabumi 27 Mei 2006. edisi 27 Juni 2006. Pemda DIY dan Pemda Jateng.

Komentar bertahan »

Tambora, Indonesia,


April 5, 1815
On Mount Tambora in the eastern part of Indonesia

The earth’s biggest eruption within historic times hit Indonesia in
1815. This eruption had a VEI of 7 and it not only devastated
Indonesia but also changed climates all over the world for years

The area we now know as Indonesia experienced earth’s two most
powerful volcanic eruptions. The first, Toba, the biggest within the
last two million years, had a VEI of 8 and was located in western
Sumatra. It erupted 74,000 years ago. The second was Tambora,
which had a VEI of 7 and was located east of Java. Tambora erupted
in April of 1815 and was the biggest in all of recorded human history.
It is likely that the tsunami of 2004, also in Indonesia, will go
down in history as the most destructive tsunami ever experienced.
Thus, Indonesia has come to be known as the locale of the world’s
most deadly earthquakes and eruptions. When Tambora erupted,
two million tons of debris rose upwards to a height of twenty-eight
miles. The heavier parts fell back to earth but the lighter particles
stayed aloft, circling the earth and blocking out much of the sunlight.
Temperatures dropped in every country of the world and
many people subsequently referred to the year 1816 as the one
without a summer.

Some sense of the immensity of this event can be gleaned from the dimensions
of the mountain before and after the eruption. It was approximately
thirteen thousand feet high before and nine thousand afterward and this
loss of four thousand feet of height occurred in a mountain that was thirtyeight
miles wide at its base. The total weight of the material that rose
into the atmosphere was ten times greater than that of Krakatau in 1883
and one hundred times more than the amount ejected from Mount St.
Helens in 1980. The sound of the explosion was heard in Western Sumatra,
a thousand miles away. The heavier fragments of lava fell back into
the ocean and the combination of heat and impact with the water created
mini eruptions from which the finer quantities of dust were added to the
already darkened atmosphere. The actual volume of ash produced by these
secondary was ten times greater than the amount generated by the original
eruption. For years, the average amount of sunshine reaching the earth
was reduced. More than ninety thousand were killed by the eruption, most
of them indirectly through the starvation and disease that followed as everything
around them was obliterated. The mountain itself continued to
burn for three months before finally coming to rest.

The local devastation in places within a hundred miles of the eruption
is well illustrated in the experiences of the villagers of Bima, a small community
at the eastern end of Sumbawa, the island on which Tambora previously
stood. For several days following the eruption they were shaken
day and night by the ongoing explosions that followed the main eruption.
A dense ash cloud in the atmosphere above Bima completely shut out the
sun for four days, similar to Vesuvius when the people there also experienced
total darkness at midday. The weight of fallen ash was too much
for most of the homes and they collapsed. At the same time, throughout
the early hours following the eruption, tsunamis flooded the village just
as they had done elsewhere on the Island of Sumbawa. Later, government
officials found innumerable numbers of corpses of people and animals on
the ground around Bima or floating nearby on the sea. In different places
around the world the impact of Tambora was not as dramatic as it was in
Bima but nonetheless enormously destructive.

Reports from northern Europe described the harvests for the year that
followed as being so poor that starvation was common among poorer families.
The industrial revolution was still young and most people were still
totally dependent on what they could wrest from the soil. Many were
reduced to eating rats. Grain prices rose four-fold in that part of the world
and, when other countries tried to be capitalize on the shortage, the price
of grain on the international market rose extremely high. France suffered
more than other countries of Western Europe because it had been involved
in Napoleonic wars right up to the year 1815 and the whole social life of
the country had been severely strained from the stresses of warfare. In the
year 1816, farmers were afraid to take their produce to market because of
the dangers of being robbed by hungry people along the way. Government
troops had to be called in frequently to protect these farmers. In the
United States, farmers in New England had so many crop failures over
such large areas that many of them migrated westward to Ohio and elsewhere.

All over Indonesia, in addition to the immediate destructive effects of
the eruption, masses of ash, rock particles, and sulfur dioxide gas were
deposited everywhere and they continued to give trouble year after year
for some time. Sulfur dioxide is a poisonous gas used in the manufacture
of sulfuric acid, a highly toxic substance. An invisible gas, the presence of
sulfuric acid in the air created complications for the digestive system of
both humans and animals and many died as a result. Lack of rain was
another consequence of the disaster. Since all vegetation was destroyed,
transpiration activity stopped. Normally new soil forms quickly in tropical
areas that experience volcanic eruptions and the eruptions contribute
to much of the tropical rainfall that comes frequently in latitudes such as
those in Indonesia. Accordingly, population there is always dense and
crops can be grown two or three times a year in such soil. However, it
took several years before Indonesia was able to grow crops of the kind and
quality needed to feed its huge population.

The collection of thousands of islands that we now call the nation of
Indonesia always had a fascination for the people of Europe, largely the
result of the value of spices in centuries past. Marco Polo was the first to
acquaint the West with what was then called the Spice Islands. That was
about eight hundred years ago but it was considerably later when the importance
of spices appeared. By the middle of the nineteenth century and
after considerable success in both farming and stock rearing, Europeans
were faced with the problem of preserving meat in winter. Animals were
slaughtered in the fall to reduce the cost of feeding them and the meat
was then salted away in iceboxes to preserve it for six or more months.
The taste of salted meat after all that time was, to say the least, not very
attractive and Europeans discovered that one specific item from the Spice
Islands, pepper, was the thing that would profoundly enhance its flavor.
Trade in pepper between Indonesia and Europe became a top priority. So
great was the value of this commodity that a single peppercorn was considered
to be worth its weight in gold and this became evident in the rules
governing stevedores at European ports. Whenever they had to handle peppercorn
shipments from Indonesia their pockets were sewn up to minimize
theft.

The island chain that is Indonesia extends in a curved form for more
than 4,000 miles. Closely following the islands on their south side but
deep below sea level stands the tectonic boundary between the Indo-
Australian Tectonic Plate and the Eurasian one. The Indo-Australian Plate
is moving northeastward beneath and at a slightly faster rate than the
movement of the larger Eurasian Plate and this subduction is the main
cause of the numerous volcanic eruptions and earthquakes we hear about
from Indonesia. Within the overall picture of these two huge tectonic
plates, there are smaller components of each that can at times be extraordinarily
destructive. The gigantic earthquake of 2004 off the coast of Sumatra
was caused by the Indian portion of the Indo-Australian Plate subducting
under the Burma portion of the Eurasian Plate and creating one of
the most powerful earthquakes of all time. The tsunami that accompanied
this event and radiated outward from the entire 750 miles of plate that
had been displaced is also likely to go down in history as the most destructive.
It was literally an earth-shattering wave and it took several minutes
for the displacement to be completed.

The island on which Tambora stood is more than two hundred miles
north of the tectonic boundary. The magma that rises from below this
boundary has to travel upward about one hundred miles from that boundary
and from far below it to reach the summit of Tambora and cause the
eruption. It is the work of geologists to trace as completely as they can
both the source of the magma and its age. Only by doing this can information
be found on the past history of volcanic activity as big as Tambora’s
and thereby be able to predict when another one might occur. The sea
floor is the top of the outermost solid layer of the earth’s surface, known
as the crust, often several miles thick. Below the crust is where the
magma exists and there have weaknesses or fault lines in that crust if
the magma is going to rise to the surface. One such fault line stretches
northwestward for 150 miles from the Island of Sumba across the tectonic
boundary to the Island of Sumbawa, the site of Tambora.

It was through breaks in this fault line that magma built up over the
centuries. Geologists did not know very much about either tectonic plates
or subduction at the time of Tambora’s eruption and it was about 150
years later that the secrets of earth’s mosaic of tectonic plates became
known. Ever since that time geologists have been busy making use of this
new knowledge to trace the history of earthquakes and volcanic eruptions.
The age of the oldest lava on the site of Tambora is about 50,000 years
and the youngest are the layers of ash and rock that were deposited on
Indonesia in 1815. Beneath these deposits are some older rocks, about
5,000 years old. This discovery, while inconclusive, gave geologists at
least one clue to the likelihood of another Tambora-type eruption arriving
soon. If the time difference between the 1815 event and the one that came
before it is 5,000 years, then one possibility is that there will not be another
one before another 5,000 years.

More work needs to be done by geologists on the history of eruptions
in this part of Indonesia in order to obtain the average time between these
destructive events over the millions of years through which they have
occurred. Only when armed with data of that kind can we estimate the
future with some degree of accuracy. The final phase of the 1815 event
seems to have begun three years earlier. Reports from local observers tell
of noisy steam eruptions, sometimes followed by dark clouds of volcanic
ash, happening from time to time between 1812 and 1815. These things
were the result of hot magma encountering moisture as it rose within the
mountain. Overall, in the course of the three years, there was a two-inch
layer of ash on the sides of the volcano and on the ground.

References for Further Study

de Boer, Jelle Zeilinga, and Sanders, Donald T. 2002. Volcanoes in Human
History: The Far-Reaching Effects of Major Eruptions. Princeton, NJ:
Princeton University Press.
Decker, R., and Decker, B. 1989. Volcanoes. New York: W. H. Freeman.
Harrington, C. R. 1992. The Year Without a Summer? World Climate in 1816.
Ottawa: Canadian Museum of Nature.
Simkin, T, and Siebert, L. 1994. Volcanoes of the World. Tucson, AZ: Geoscience
Press.
Stommel, Henry M., and Stommel, Elizabeth. 1983. Volcano Weather: The
Story of 1816, The Year Without a Summer. Newport, RI: Seven Seas
Press.

Sumber:
Angus M. Gunn., Encyclopedia of disasters : environmental catastrophes and human
tragedies, GREENWOOD PRESS, Westport, Connecticut, London, hal. 98 – 102.
–~–~———~–~—-~————~——-~–~—-~
Hidup Bersama Risiko Bencana
Website: http://bencana.net; Milis: bencana@googlegroups.com
Mendaftar anggota milis: bencana-subscribe@googlegroups.com
Keluar dari milis: bencana-unsubscribe@googlegroups.com
-~———-~—-~—-~—-~——~—-~——~–~—

Komentar bertahan »

’Paradigma’ Pemberdayaan

padang ekspres, Selasa, 13 Mei 2008
Active ImageOleh : Fuad Madarisa, Staf pengajar Pascasarjana Unand Padang
Apa perkembangan pemikiran pembangunan yang mengemuka selama satu dekade terakhir ?.  Sepuluh tahun semenjak reformasi memberikan sejumlah trend pembangunan pada kita. Kecendrungan yang terjadi, antaranya adalah; Pertama, menguatnya wacana civil society – atau masyarakat madani. Pergeseran nampak menuju kepada peran lebih besar dari masyarakat sipil dalam kerangka kehidupan negara yang lebih demokratis.

Kedua,  arah dan fokus membahas pembangunan yang berbeda.  Sebelumnya berkutat terutama tentang pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Kini justru mengupas persoalan kemiskinan dan wilayah pedesaan.  Selanjutnya pembangunan yang tidak bias kota atau meluber dan berat kekota. Berikutnya upaya untuk memberi penghargaan pada dimensi lingkungan hidup dan generasi masa datang. Ketiga, perencanaan terpusat melonggar menuju lebih fleksibel dan partispatif. Keputusan perencanaan lebih banyak terjadi di daerah. Partisipasi stakeholders dalam proses perencanaan juga semakin penting. Mereka mendapatkan akomodasi dalam pengambilan kebijakan publik, melalui pembukaan ruang atau payung aturan baru.

Keempat,  kebebasan pers dan berpolitik semakin besar. Sebaliknya,  ini membawa pada mengecilnya tekanan bagi upaya mengusung aspirasi masyarakat. Buktinya, partai dan media massa tumbuh bagai cendawan dimusim hujan.  Kelima, bertambahnya kiprah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Walau sempat terpangkas ketika peristiwa merdekanya Timor Leste, LSM memainkan peran lebih besar pula. Baik tingkat lokal, nasional ataupun internasional.

Semua gejala ini mengacu pada sejumlah esensi; (a) otonomi pengambilan keputusan, (b) semakin percaya dan tergantung pada kemampuan sendiri, (c) partisipasi langsung masyarakat dan (d) proses belajar sosial.  Suatu proses belajar dan berubah yang tidak linear, melainkan ber’siklus’, dimana ‘hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini’.  Keseluruhan kecendrungan diatas mengerucut kepada satu kata, yaitu; “pemberdayaan”.

Nampaknya, upaya dan cita-cita untuk berdaya mengusik paradigma atau pandangan pembangunan yang dominan selama ini. Sebab pemberdayaan masyarakat, tidak hanya seperti pemahaman tentang pembangunan – sosial, ekonomi, kemiskinan dan lingkungan – belaka. Pemberdayaan, juga menempatkan kakinya pada basis moral, etika dan budi pekerti. Sehingga, pemberdayaan termasuk dalam upaya penerapan demokrasi, ekonomi berkeadilan, kesamaan hak dan keberlanjutan bagi generasi mendatang. John Friedman menyebutnya sebagai ‘the politics of alternative development’.

Bagi Kuntowidjojo, dengan basis moral dan etika itu, maka, pemberdayaan suatu masyarakat hanya bertolak dari tiga konsep nilai; ’humanisasi, liberasi dan transendensi’. Sebab manusia terbaik, dasarnya memang konsep nilai ini. Simak kutipan berikut; “Kamu adalah umat yang paling baik, yang dilahirkan bagi manusia. Kamu menyuruh melakukan yang benar (humanisasi), dan melarang yang mungkar (liberasi). Dan kamu beriman kepada Allah (transendensi). Sekiranya ahli Al-Kitab beriman, tentu lebih baik baginya. Diantara mereka ada yang beriman, tapi kebanyakan mereka melanggar perintah Tuhan (Q; 3:110).  Wahyu, oleh karena itu, merupakan sumber kebenaran yang perlu kita terapkan dan temukan dalam dimensi ruang dan waktunya.

Namun pemberdayaan tidak bakal menggantikan semua yang telah ada. Tujuannya agar ada upaya mengakomodasi kepentingan kelompok masyarakat yang terabaikan untuk masuk kedalam proses pengambilan kebijakan ekonomi dan politik. Ada penghargaan dan pembukaan peluang mereka sebagai manusia dan masyarakat dalam proses pembangunan itu. Dalam perspektif ini, kelompok kelompok masyarakat memainkan peran vital dan penting.

Karena itu, dengan menguatnya paradigma pemberdayaan, kita membutuhkan cara cara menumbuhkan, memelihara dan memfasilitasi kegiatan kelompok. Katakanlah, semacam buku petunjuk ’seperti cara memasak’ yang detil. Buku itu mampu menyajikan cara cara bekerja dan belajar bersama kelompok. Sehingga, pada gilirannya lembaga, institusi atau kelompok mampu menghasilkan kinerja yang memperbaiki anggota dan bangsa ini. Bukan sebaliknya, anggota terjebak dalam struktur, yang menjadikan mereka budak hierarki lembaga. Lalu, bekerja tanpa banyak menggunakan ‘kepala’, karena tidak ada yang sanggup merubahnya. ***

Komentar bertahan »

Jika Kenaikan Harga BBM Terjadi

Kamis, 15 Mei 2008
Oleh : Agus Suman PhD, Pengajar Ilmu Ekonomi di Universitas Brawijaya Malang
Kenaikan harga BBM sudah di depan mata. Wapres Jusuf Kalla malah sudah mengisyaratkan pemerintah akan memberlakukan kenaikan paling lambat akhir Mei. Banyak pihak memperkirakan besaran kenaikan cukup signifikan, mencapai 30 persen. Premium BBM kendaraan bermotor yang paling tinggi tingkat konsumsinya akan naik menjadi sekitar Rp6.000 per liter.

Bantalan terhadap dampak pun telah disiapkan, misalnya melalui instrumen yang diberi nama BLT plus, yang merupakan penyempurnaan dari konsep lama, yakni BLT. Banyak yang merespons negatif dan menganggap kebijakan uzur itu penuh dengan lubang-lubang persoalan seperti mekanisme pembagian yang subur dengan kesemrawutan. Kebijakan penghematan pun disegerakan, September mendatang diberlakukan smart card untuk menekan angka konsumsi BBM.

Jadi, saat ini kebijakan menaikkan harga BBM telah memasuki masa hamil tua, berbagai argumen untuk mencegah kenaikan harga BBM harus bersimpuh pada kondisi anggaran yang kritis karena kenaikan harga minyak dunia.

Benarkah pemerintah telah benar-benar siap terhadap dampak yang akan timbul dari kebijakan yang segera dibidaninya?

Mampukah pemerintah mendeteksi, menjinakkan sekaligus memberantas kejahatan-kejahatan yang memanfaatkan situasi itu, seperti penimbunan dan kenaikan harga gila-gilaan?

Kemudian, juga seberapa jauh pemerintah mampu mengendalikan pasokan melalui operasi pasar dan memberikan efek jera melalui penegakan hukum?

Sebab, hal itu ikut menentukan keberhasilan dalam meredam gejolak ekonomi sosial terkait kenaikan harga BBM.

Pemerintah menyiapkan skenario kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi rata-rata sebesar 28,7 persen. Dalam skenario itu, kenaikan harga mencakup tiga jenis BBM bersubsidi, yakni premium naik dari Rp 4.500 per liter menjadi Rp 6.000 per liter atau naik 33,33 persen.

Solar naik dari Rp 4.300 menjadi Rp 5.500 per liter atau meningkat sebesar 27,90 persen dari harga saat ini. Serta, minyak tanah menjadi Rp 2.500 per liter atau naik 25 persen dari harga sekarang Rp 2.000.

Salah satu kecemasan yang hadir adalah penyelewengan bahan bakar minyak bersubsidi untuk rakyat miskin karena memang persoalan tersebut seakan tak pernah bisa diselesaikan pemerintah. Terlebih BBM untuk industri telah dinaikkan Pertamina mulai awal Mei 2008 sehingga ada disparitas harga yang lebar antara BBM bersubsidi dan industri.

Misalnya, harga minyak tanah untuk rumah tangga naik Rp 500 menjadi Rp 2.500 per liter, tetapi minyak tanah untuk industri telah dinaikkan menjadi Rp 9.424 per liter untuk wilayah I. Selain itu, perbedaan harga solar untuk industri dan transportasi membuka celah untuk terjadinya penyelewengan.

Solar bersubsidi yang naik menjadi Rp 5.500 cukup murah bila dibanding solar untuk industri yang telah dipatok dengan harga Rp 9.227. Dengan komposisi harga minyak tanah ini saja, tidak mustahil para spekulan dengan segala cara akan menimbun minyak tanah untuk rumah tangga yang kemudian dijual ke industri. Meski, ada risiko tertangkap karena dari praktik itu, pelaku mendapat keuntungan yang cukup tinggi.

Penyelewengan akibat disparitas harga sebenarnya bukan informasi baru bagi pemerintah. Bahkan, sebelumnya disparitas antara harga BBM dalam negeri dan harga BBM di pasar internasional juga menyebabkan penyelundupan BBM ke luar negeri untuk dijual ke kapal asing yang sedang lego jangkar di perairan Singapura.

Maka, di samping dampak kenaikan harga yang berimbas terhadap rakyat, ada permasalahan lain yang juga berpengaruh terhadap tata niaga BBM.

Penyelewengan tersebut tentu juga akan menjadi beban anggaran sehingga konsumsi BBM yang tinggi dan ditopang dengan subsidi demikian besar, tetapi peruntukkannya tidak tepat sasar.

Itulah warisan permasalahan yang harus diberangus pemerintah, pengawasan yang lebih ketat harus semakin diperankan. Sebenarnya, perangkat UU untuk membasmi praktik penyelewengan tersebut telah ada, yakni UU No 22/2001 tentang Migas.

Produk hukum itu seharusnya menjadi jaminan bahwa tidak ada penyelewengan dan penyalahgunaan BBM dan memberi efek jera terhadap penimbun BBM yang berujung kelangkaan.

Karena itu, ratapan pemerintah dengan terpaksa mengambil pilihan pahit menaikkan BBM juga harus diimbangi dengan ikrar untuk menegakkan hukum dalam pengawasan distribusi BBM. Jika peran itu bisa dilaksanakan pemerintah, tentu konsumsi BBM bersubsidi bisa ditekan pada tingkat yang wajar. Dari titik itu saja, bugarnya neraca anggaran menjadi sebuah keniscayaan. (***)

Komentar bertahan »