Kenaikan biaya angkutan kota untuk pelajar sebesar 100 persen dari Rp 1.000 menjadi Rp 2.000 sekali jalan membuat para ibu kelas menengah apalagi kelas bawah semakin kebingungan menentukan uang saku anaknya. Memperbolehkan anak naik sepeda seperti saat mereka bersekolah dulu jelas tidak mungkin. Lalu lintas Kota Medan dan sarana jalannya semakin tidak memberi akses dan ruang bagi warganya untuk bersepeda, apalagi anak-anak. Mengizinkan anak bersepeda ke sekolah melewati jalan aspal seperti menjerumuskan anak pada maut.
Dana Tarigan, aktivis Gerakan Pelajar/Mahasiswa Hijau Medan, mengaku sering sekali dicaci pengemudi kendaraan lainnya saat naik sepeda. Mahasiswa Universitas Nommensen yang mengaku setiap hari naik sepeda ke kampusnya dari rumahnya di kawasan Gatot Subroto itu merasa pengendara sepeda di Kota Medan sangat tidak dihargai.
Akses jalan untuk mereka tidak ada. Moda transportasi ramah lingkungan dan sehat itu melaju bercampur dengan kendaraan yang lebih cepat, bahkan kendaraan angkutan berat. Akibatnya, sepeda semakin tersingkir.
Namun, Dana membuktikan, kalau tidak tergesa-gesa, naik sepeda itu irit karena tak perlu beli bahan bakar.
Hayarni Tanjung (35), ibu rumah tangga yang tinggal di Sunggal, mengaku serba salah. ”Saya pernah tawari anak saya naik sepeda, anak saya mau dan senang. Namun, bagaimana saya bisa lepaskan dia, lalu lintas di Medan begini simpang siur,” tutur Hayarni.
Kenaikan harga BBM membuat biaya transportasi ke sekolah meningkat pesat. ”Bayangkan jika harus ganti kendaraan umum dua kali untuk berangkat sekolah. Biaya transportasi jadi Rp 8.000 sehari,” tutur ibu dua anak yang gajinya tak lebih dari upah minimum provinsi. Kalau sebulan 25 kali masuk sekolah, biaya transportasi yang harus dikeluarkan menjadi Rp 200.000. Belum uang jajannya.
Hayarni mengaku, akhir era 80-an hingga awal 90-an ia masih ke sekolah dari kawasan Sunggal hingga ke Pinang Baris naik sepeda. Dulu nyaman-nyaman saja. Namun, bertambahnya angkutan pribadi membuat jalan semakin padat. Apalagi pemerintah kota pun tak memberi ruang untuk jalan sepeda.
Tak banyak orang bersepeda di Kota Medan. Di perhentian lampu merah perempatan Jalan Sudirman dengan Jalan Juanda, Minggu (15/6) sekitar pukul 11.00, misalnya, hanya ada tiga orang mengendarai sepeda di tengah puluhan kendaraan roda empat dan sepeda motor. Satu orang dari Jalan Sudirman, satu orang dari Jalan Hang Lekiu, dan satu dari Jalan Juanda.
Kemarin, Dana dan puluhan temannya menggelar kampanye damai di jalanan Medan soal penggunaan sepeda. Mereka naik sepeda keliling Medan dan berhenti di depan Tugu SIB, membagikan stiker dan masker sambil kampanye soal pelestarian alam. Bisa jadi banyak orang mencibir, tetapi aksi mereka terus jalan.
Imran Gultom, petugas polisi yang menjaga aksi damai itu, bercerita, lima tahun lalu warga seputar Tembung masih suka naik sepeda ke Kota Medan. Sekarang, saat kredit kendaraan begitu murah, orang ramai-ramai beralih ke sepeda motor sehingga sepeda semakin ditinggalkan.
”Saya pun tak tega kalau lihat anak saya ke kampus naik sepeda,” tutur Imran. Hanya anak terkecilnya yang masih duduk di bangku SD ia perbolehkan naik sepeda karena lokasi sekolah tak jauh dari rumah. (AUFRIDA WISMI)
dikutip dari kompas