Kamis, 15 Oktober 2009 23:47 WIB 0 Komentar
Penulis : Thalatie Yani
JAKARTA-MI: Pemerintah menetapkan rekonstruksi dan rehabilitasi
pascagempa Sumatera Barat (Sumbar) dan Jambi dilakukan seperti
rekonstruksi dan rehabilitasi di Yogyakarta. Tapi juga mengambil pola
Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh dan Nias.
“Pola penanganan seperi tsunami di Aceh, partisipasi masyarakat dapat
tertampung lebih maksimal. Pola Yogya untuk perumahan, BRR yang lain
agar akuntabilitynya lebih terjaga,” tukas ketua BNPB Syamsul Maarif
usai mengikuti sidang kabinet terbatas diperluas di seketariat negara,
Jakarta, Kamis (15/10).
Dalam sidang kabinet terbatas diperluas itu Presiden memerintahkan menko
kesra Aburizal Bakri, Menkoperek Sri Mulyani dan BNPB menyampaikan
saran. Mereka juga akan menyampaikan penetapan tanggapdarurat selesai
dan dimulainya masa rekonstruksi dan rehabilitasi pada saatnya nanti.
Masa tanggap darurat selesai setelah verivikasi kerusakan bangunan selesai.
“Verifikasi dilakukan 15 hari sejak tanggal 5 Oktober. Dilakukan dua
kali, pertama oleh wakil gubernur dengan 700 mahasiswa dan kedua oleh
Bappenas, PU dan BNPB,” papar Syamsul.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengatakan untuk tanggap darurat,
utamanya penyelamatan korban sudah dihentikan sejak Rabu (14/10). “Sudah
tidak ada laporan orang hilang lagi dan masyarakat telah merelakan
wilayah di Agam dan Pariaman yang tertimbun menjadi kuburan massal,”
ujarnya.
Pemenuhan kebutuhan dasar sudah didistribusikan. Hingga saat ini beras
tang didistribusikan seberat 400gr per orang dan Rp5.000 per hari per
orang untuk lauk pauk. Stok beras tersedia 13 ribu ton, untuk memenuhi
kebutuhan dasar empat bulan.
Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengatakan pemeritah sudah mendrop 6000
tonberas dalam waktu dekat. Stok tersisa di dolog sebesar 14 ribu ton
guna menghidupi masyarakat Sumbar 4 bulan lamanya. Uang lauk pauk 5 ribu
orang, per hari. untuk 20 hari, total yang sudah dicairkan Rp44 milyar.
Mengenai hunian masih sebanyak 90ribu kepala keluarga yang kekurangan
tenda. Namun 2/3 akan dipenuhi minggu ini.
“Sisanya gubernur mempunyai insiatif memberi alat pertukangan untuk
membuat shelter. Mereka mampu menggunakan sisa bangunan untuk membuat
shelter yang lebih aman,” tukas Syamsul.
Kebutuhan dasar air minum, energi listrik berjalan normal. Air minum 80
persen. Padang Pariaman listrik menyala 100 persen. Sekolah rusak 3100
dan diharapkan minggu ini selesai untuk sekolah sementara. Setiap kelas
yang satu lokal mendapatkan Rp8 juta.
Mengenai pemenuhan kebutuhan dasar hunian, akan dibagi menjadi tiga
cluster. Pertama perumahan, kedua perkantoran dan terakhir ialah
fasilitas umum.
Sementara itu Gamawan mengungkapkan 1117 orang meninggal. Yang berhasil
teridentifikasi sebanyak 907 orang. Yang lain tertibun tanah longsor,
yakni 210 orang. Mereka sudah dibuatkan daftar nama dan tidak
diidentifikasi lagi karena ketebalan tanah lebih dari 10 meter. (Rin/OL-7)
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/10/100469/126/101/Rekonstruksi-Sumbar-Dilakukan-Seperti-Rekonstruksi-Yogyakarta