Arsip untuk Oktober, 2009

RADIO TANGGAP DARURAT BANTUAN RNL

radio RNL, belanda membantu Jaringan Radio Komunitas Sumatera Barat mendirikan radio tanggap darurat di 2 wilayah yaitu di Kiambang kecamatan 2 x11 enam Lingkung  dan Batu basa kec. III Koto Aur MAlintang padang pariaman, dengan harapan dapat membantu proses informasi yang ada di daerah bencana.

bantuan tersebut berupa satu paket pemancar, Genset, dan Radio penerima yang dibagikan ke masyarakat.

Bantuan tersebut langsung kepada pengelola radio serta masyarakat sehingga nantinya bisa terus dilanjutkan kepada proses-proses tanggap bencana selanjutnya.

masyarakat mulai dapat melakukan aktivitas dalam keseharian sehingga bisa membantu mempercepat pemulihan para kkorban bencana.

 

Komentar bertahan »

catatan Paska Gempa 1

Gempa 30 September 2009, masih menyisakan kesediahan yang mendalam, karena samapai sat ini dibeberapa daerah masih tampak onggokan bangunan yang belum dibersihkan padahal proses tanggap darurat akan segera berakhir.
akan kah terus keadaan bengini samapi tahp recovery dan reconstruksi berjalan, ataukah memang sudah hilang budaya gotong royong di minang yang dulu kita banggakan?, kemudian yang kedua, sepanjang jalan di daerah bencana nampak mande dan anak-anaknya ikut menyodorkan kardus bekas bungkus mie instan, kepada setiap yang lewat, mengharapkan bantuan dan orang yang lewat, hilangkah budaya raso pareso di negeri yang elok ini, sehingga anak-anak dan mandenya ikut “mengemis” di tepi jalan menanti belas kasihan. yang ketiga hadirnya bantuan yang bertumpuk disekitar kita, sudahkah kita juga melihat ada sanak sudara kita yang masih kekurangan di pojok nagari yang susah akses transportasi. ataukah ada pola distribusi bantuna yang pas.
yang ke empat, kesiapan kita dalam menghadapi rekonstruksi yang begitu pelik, tentunya menjadi catatan tersendiri, karena proses rekonstruksi gempa 2 tahu yang lalu belum beres, kemudian disusul dengan gempa yang kali ini,
jadi dari manakah kita mulai, ya dari kesadaran yang “dapek kito pacik basamo-samo”

Komentar bertahan »

Rekonstruksi Sumbar Dilakukan Seperti Rekonstruksi Yogyakarta

Kamis, 15 Oktober 2009 23:47 WIB 0 Komentar
Penulis : Thalatie Yani

JAKARTA-MI: Pemerintah menetapkan rekonstruksi dan rehabilitasi
pascagempa Sumatera Barat (Sumbar) dan Jambi dilakukan seperti
rekonstruksi dan rehabilitasi di Yogyakarta. Tapi juga mengambil pola
Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh dan Nias.

“Pola penanganan seperi tsunami di Aceh, partisipasi masyarakat dapat
tertampung lebih maksimal. Pola Yogya untuk perumahan, BRR yang lain
agar akuntabilitynya lebih terjaga,” tukas ketua BNPB Syamsul Maarif
usai mengikuti sidang kabinet terbatas diperluas di seketariat negara,
Jakarta, Kamis (15/10).

Dalam sidang kabinet terbatas diperluas itu Presiden memerintahkan menko
kesra Aburizal Bakri, Menkoperek Sri Mulyani dan BNPB menyampaikan
saran. Mereka juga akan menyampaikan penetapan tanggapdarurat selesai
dan dimulainya masa rekonstruksi dan rehabilitasi pada saatnya nanti.
Masa tanggap darurat selesai setelah verivikasi kerusakan bangunan selesai.

“Verifikasi dilakukan 15 hari sejak tanggal 5 Oktober. Dilakukan dua
kali, pertama oleh wakil gubernur dengan 700 mahasiswa dan kedua oleh
Bappenas, PU dan BNPB,” papar Syamsul.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengatakan untuk tanggap darurat,
utamanya penyelamatan korban sudah dihentikan sejak Rabu (14/10). “Sudah
tidak ada laporan orang hilang lagi dan masyarakat telah merelakan
wilayah di Agam dan Pariaman yang tertimbun menjadi kuburan massal,”
ujarnya.

Pemenuhan kebutuhan dasar sudah didistribusikan. Hingga saat ini beras
tang didistribusikan seberat 400gr per orang dan Rp5.000 per hari per
orang untuk lauk pauk. Stok beras tersedia 13 ribu ton, untuk memenuhi
kebutuhan dasar empat bulan.
Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengatakan pemeritah sudah mendrop 6000
tonberas dalam waktu dekat. Stok tersisa di dolog sebesar 14 ribu ton
guna menghidupi masyarakat Sumbar 4 bulan lamanya. Uang lauk pauk 5 ribu
orang, per hari. untuk 20 hari, total yang sudah dicairkan Rp44 milyar.

Mengenai hunian masih sebanyak 90ribu kepala keluarga yang kekurangan
tenda. Namun 2/3 akan dipenuhi minggu ini.
“Sisanya gubernur mempunyai insiatif memberi alat pertukangan untuk
membuat shelter. Mereka mampu menggunakan sisa bangunan untuk membuat
shelter yang lebih aman,” tukas Syamsul.

Kebutuhan dasar air minum, energi listrik berjalan normal. Air minum 80
persen. Padang Pariaman listrik menyala 100 persen. Sekolah rusak 3100
dan diharapkan minggu ini selesai untuk sekolah sementara. Setiap kelas
yang satu lokal mendapatkan Rp8 juta.

Mengenai pemenuhan kebutuhan dasar hunian, akan dibagi menjadi tiga
cluster. Pertama perumahan, kedua perkantoran dan terakhir ialah
fasilitas umum.

Sementara itu Gamawan mengungkapkan 1117 orang meninggal. Yang berhasil
teridentifikasi sebanyak 907 orang. Yang lain tertibun tanah longsor,
yakni 210 orang. Mereka sudah dibuatkan daftar nama dan tidak
diidentifikasi lagi karena ketebalan tanah lebih dari 10 meter. (Rin/OL-7)

http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/10/100469/126/101/Rekonstruksi-Sumbar-Dilakukan-Seperti-Rekonstruksi-Yogyakarta

Komentar bertahan »

RANAH MINANG BERDUKA

semoga masyarakat yang ada di sumatera barat, padang, Pariaman, padang pariaman, mentawai, Pasaman, semoga tetap di beri ketabahan dalam menerima keadaan.

Komentar bertahan »