Gempa 30 September 2009, masih menyisakan kesediahan yang mendalam, karena samapai sat ini dibeberapa daerah masih tampak onggokan bangunan yang belum dibersihkan padahal proses tanggap darurat akan segera berakhir.
akan kah terus keadaan bengini samapi tahp recovery dan reconstruksi berjalan, ataukah memang sudah hilang budaya gotong royong di minang yang dulu kita banggakan?, kemudian yang kedua, sepanjang jalan di daerah bencana nampak mande dan anak-anaknya ikut menyodorkan kardus bekas bungkus mie instan, kepada setiap yang lewat, mengharapkan bantuan dan orang yang lewat, hilangkah budaya raso pareso di negeri yang elok ini, sehingga anak-anak dan mandenya ikut “mengemis” di tepi jalan menanti belas kasihan. yang ketiga hadirnya bantuan yang bertumpuk disekitar kita, sudahkah kita juga melihat ada sanak sudara kita yang masih kekurangan di pojok nagari yang susah akses transportasi. ataukah ada pola distribusi bantuna yang pas.
yang ke empat, kesiapan kita dalam menghadapi rekonstruksi yang begitu pelik, tentunya menjadi catatan tersendiri, karena proses rekonstruksi gempa 2 tahu yang lalu belum beres, kemudian disusul dengan gempa yang kali ini,
jadi dari manakah kita mulai, ya dari kesadaran yang “dapek kito pacik basamo-samo”
0