Arsip untuk INFO TERBARU

RADIO TANGGAP DARURAT BANTUAN RNL

radio RNL, belanda membantu Jaringan Radio Komunitas Sumatera Barat mendirikan radio tanggap darurat di 2 wilayah yaitu di Kiambang kecamatan 2 x11 enam Lingkung  dan Batu basa kec. III Koto Aur MAlintang padang pariaman, dengan harapan dapat membantu proses informasi yang ada di daerah bencana.

bantuan tersebut berupa satu paket pemancar, Genset, dan Radio penerima yang dibagikan ke masyarakat.

Bantuan tersebut langsung kepada pengelola radio serta masyarakat sehingga nantinya bisa terus dilanjutkan kepada proses-proses tanggap bencana selanjutnya.

masyarakat mulai dapat melakukan aktivitas dalam keseharian sehingga bisa membantu mempercepat pemulihan para kkorban bencana.

 

Komentar bertahan »

Pengurangan Risiko Bencana Alam Berbasis Komunitas, Kombinasikan Teknologi dan Ibadah

Pengurangan Risiko Bencana Alam Berbasis Komunitas, Kombinasikan Teknologi dan Ibadah

Rabu, 09 Juli 2008
Kabupaten Solok memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang luar biasa. Seperti keindahan alam, lahan pertanian dan yang lainnya. Selain itu, dinilai  maju di bidang pemerintahan dengan kepeloporan penerapanan good local governance secara konsisten dan konsekuen di Indonesia, serta  maju di bidang pembangunan dan, kemasyarakatan.

Namun pelaksanaan kegiatan pembangunan itu sendiri dengan sejumlah hasilnya tidaklah mudah. Daerah penghasil beras ternama ini dihadapkan pada situasi kondisi yang  rawan bencana seperti gempa, gunung meletus, konflik masyarakat, banjir, angin ribut/badai dan lainnya. Bahkan, Gunung Api Talang yang ada di Kabupaten Solok hingga saat ini masih menunjukkan aktivitasnya yang berfluktuasi.

Berbekal pengalaman setiap kali menghadapi bencana alam, Kabupaten Solok tak hentinya terus menyiapkan dan menyiagakan diri agar kian mapan dalam penanganan, baik sebelum terjadi, saat terjadi dan setelah terjadi bencana.

Bupati Solok, Gusmal mengatakan, daerahnya saat ini telah memiliki protap penanganan bencana alam. Ke depan, segera disiapkan pula crisis centre yang dilengkapi dengan  peralatan pendeteksi runnet yang bisa mengakses langsung informasi dari BMG.

Menurut Kepala BMG Padangpanjang Sumarso,  harga satu set peralatan pendeteksi bencana alam runnet Rp40 juta. Sejauh ini, ada 5 daerah kabupaten/kota di Sumbar yang telah menggunakan. Masing-masing di Kantor Gubernur Sumatera Barat, Kota Padang, Kabupaten Agam, Kabupaten Mentawai dan Kabupaten Padangpariaman. Untuk operasional peralatan ini, ditempatkan petugas yang telah dilatih BMG.

”Sebetulnya, kita telah mensosialisasikannya tidak terbatas pada 5 daerah tersebut, contoh salah satunya Kabupaten Dharmasraya,” ujar Suarso. Menurut Kepala BMG Sumatera Barat itu, runnet yang berasal dari pusat tersebut sangat canggih.

Meski hanya dilengkapi seperangkat komputer dan receiver, namun peralatan dimaksud bisa beroperasi tanpa hambatan. Tidak tergantung telepon macet dan akurasi datanya sangat tinggi. Pengguna bisa mendapatkan langsung ekspos database. Untuk masalah yang masih ada, ungkap Suarso, hanya menyangkut bahasa teknis.

”Bahasa teknis itu tidak semua pengguna bisa memahami. Tapi, kita telah menambah database,” aku Kepala BMG seraya menambahkan BMG Sumatera Barat pun telah menyerahkan 6 sirene pendeteksi tsunami. Masing-masing kepada Pemkab Pesisir Selatan, Padang, Padangpariaman, Tiku Agam dan Pasaman Barat.

Tidak cukup hanya itu, Pemkab Solok, Kamis (3/7) menggelar kegiatan lokakarya Studi Pengurangan Risiko Bencana Alam Berbasis Komunitas dan Menciptakan Komunitas yang Aman Melalui Pengurangan Risiko Bencana, di guest house rumah dinas Bupati Solok, Arosuka.

Lokakarya yang didukung Bappenas, BNPB, badan dunia UNDP, Depdagri, Konsultan  SC-DRR, Pusat Studi Menejemen Bencana UPN Veteran Jogyakarta tersebut, dibuka secara resmi oleh Bupati Solok, Gusmal yang sekaligus memberikan sambutan dengan leading sector Bappeda Kabupaten Solok.

Pada kesempatan lokakarya, Gusmal meminta masyarakat Kabupaten Solok tidak hanya mengandalkan upaya teknis manusia semata. Melainkan, secara mendasar hendaknya tetap mengingat dan berdoa kepada Allah SWT, minimal melalui shalat Tahajjud dan shalat Duha.

Terkait dengan ini, bupati menambahkan Pemkab Solok sejauh ini telah memprakarsai kegiatan ritual keagamaan bagi pembekalan rohani/mental umat berupa tabliqh akbar, tausyiah, dzikir bersama, ESQ dan lainnya. ”Jadi, jangan lupa kebesaran dan kekuasan Allah. Semuanya itu datang atau berasal dari dan akan kembali pula kepada Allah,” katanya. (romeyzar)

Padangekspres.co.id, rabu, 09 juli 2008

Komentar bertahan »

Harga Rp700 Juta, Sirine Tsunami Ternyata Tidak Anti Petir

PadangKini.com | Selasa, 11/11/2008, 10:02 WIB

PADANG–Sirine tsunami bantuan BMG (Badan Meteologi dan Geofisika) yang di Sumatera Barat dibangun 7 unit sejak 2 tahun lalu, ternyata tidak anti petir.

Ini terbukti setelah sirine untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) yang didirikan di Kota Pariaman hangus disambar petir sekitar dua bulan lalu.

“Ditembak petir menjelang Ramadan kemarin, semua rangkaian alat elektroniknya  dari Jakarta sedang memperbaiki karena karena masih garansi, tapi tidak terkejar lagi untuk bisa diuji coba Selasa (11/11) ini,” kata Ade Edwar, Koordinator Pusat Pengendalian Operasional Penanggulangan Bencana Sumatera Barat kepada PadangKini.com, Selasa (11/11).

Kejadian itu, kata Ade, membuktikan sirine seharga Rp700 juta per unit tersebut tidak dirancang anti petir, karena itu diharapkan bisa diperbaiki dan ditambah agar anti petir. (syof)

Komentar bertahan »

Warga Sumbar Diminta Waspadai Banjir dan Longsor Hingga Desember

PadangKini.com | Selasa, 11/11/2008, 7:50 WIB

PADANG–Sebanyak 19 kabupaten dan kota diminta mewaspadai ancaman longsor dan hingga Desember mendatang karena tingginya curah hujan. Curah hujan di atas rata-rata akan terjadi di sebagian besar daerah di Sumatera Barat terutama di Pesisir Selatan, Padang, dan Pasaman.

Koordinator Pusdalop (Pusat Pengendalian dan Operasional) Kesiagaan Bencana Sumatera Barat Ade Edward, Selasa (11/11) mengatakan, pihaknya telah menerima peringatan bahaya longsor di Sumatera Barat  dari Badan Geologi serta informasi dari BMG Pusat.

“Masyarakat yang tinggal di sekitar bukit yang terjal dan pemukiman yang berjarak 50-100 meter dari sungai diminta waspada dan kalau bisa mengungsi dulu, selain itu kita juga meminta masyarakat memeriksa hulu sungai, air terjun, kalau ada yang tersumbat alirannya oleh kayu tolong bersihkan, agar air tidak merembes ke tanah yang bisa menjadi longsoran lumpur seperti yang terjadi di Malalak Jumat lalu,” kata Ade.

Lereng atau bukit yang pernah longsor diwaspadai, karena longsor selalu kembali terjadi di tempat yang sama dan berulang dengan jangka waktu 4 sampai 5 tahun, seperti di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Ia juga meminta Pemda Pesisir Selatan mulai mempersiapkan perahu karet, karena banjir bisa terjadi di daerah Pesisir Selatan yang sudah langganan banjir. Selain tu masayarakat juga diminta membersihkan got dan saluran air untuk antisipasi banjir.

“Gubernur juga sedang membuat surat peringatan dini kepada kepala daerah 19 kabupaten dan kota untuk meminta mewaspadai banjir dan  longsor,” kata Ade Edward. (yanti)

Komentar bertahan »

Planets Align for the 4th of July

FEATURE
Planets Align for the 4th of July 07.01.2008

<!–en español
–> + Play Audio | + Download Audio | + Email to a friend | + Join mailing list

July 1, 2008: News Flash: On 4th of July weekend, NASA forecasts lights in the sky.

No, not those lights. Look beyond the fireworks. Almost halfway up the western sky, just above the twilight glow of sunset, a trio of worlds is gathering: Saturn, Mars and the crescent Moon.

The show gets going on Friday, July 4th. Red Mars and ringed Saturn converge just to the left of the bright star Regulus. The three lights make a pretty 1st-magnitude line in the heavens: sky map.

But that is just the beginning. On Saturday, July 5th, with weekend fireworks at fever pitch, a lovely crescent Moon joins the show. Saturn, Mars, and the Moon trace an even brighter line than the night before: sky map.

Scan a small telescope along the line. You’ll see Saturn’s rings, the little red disk of Mars, a grand sweep of lunar mountains and craters, and just maybe—flash!—a manmade incendiary. How often do you see fireworks through a telescope?

This is, however, more than just a flashy gathering of planets—it is also a gathering of spaceships and robots.

Each of the three worlds is orbited or inhabited by probes from Earth. Saturn has the Cassini spacecraft, studying the gas giant’s storms, moons and rings. The Moon has two probes in orbit: Kaguya from Japan and Chang’e-1 from China. The pair, operating independently, are mapping the Moon and scanning for resources in advance of future human landings. NASA’s Lunar Reconnaissance Orbiter will join them later this year.

Right: An artist’s concept of Lunar Reconnaissance Orbiter slated to launch later this year. [more]

Mars has more probes than the others combined. Three active satellites orbit the red planet: Europe’s Mars Express and NASA’s Mars Odyssey and Mars Reconnaissance Orbiter. The three not only study Mars with their own instruments, but also form a satellite network in support of NASA’s Mars rovers Spirit and Opportunity and Mars lander Phoenix.

None of these mechanical specks are visible in a backyard telescope, but they are there, heralds of a growing human presence in the solar system. Tell that to your buddy at the fireworks show!

During the short night of July 5th, the Moon glides past Mars and Saturn so that nightfall on Sunday, July 6th, brings a different arrangement—a scalene triangle. The triad is easy to find in the hours after sunset. Look west and let the Moon be your guide: sky map.

In the nights that follow, the Moon exits stage left, leaving the others behind. Don’t stop watching, though. Saturn and Mars are converging for their closest encounter of the next 14 years. After nightfall on Thursday, July 10th, the two planets will be just ¾ of a degree apart, snug enough to fit behind the tip of your pinky finger held at arm’s length: sky map.

Now that’s spectacular—no fireworks required.

SEND THIS STORY TO A FRIEND

Author: Dr. Tony Phillips | Credit: Science@NASA

Komentar bertahan »

NOCTILUCENT STORM

PLANETS ALIGN FOR THE 4th OF JULY: Look beyond the fireworks on 4th of July weekend. A trio of worlds is converging for a pretty sunset sky show: full story. [Sky maps: July 4, 5, 6]

NOCTILUCENT STORM: A veritable storm of noctilucent cloud (NLC) activity is taking place over Europe this week. “On July 2nd, the bands were so bright and compact, they seemed to cast their own shadows on the sky,” says John McConnell of Maghaberry, N. Ireland: photo. “I’ve been observing NLCs for forty years, and I have never seen that before.” In Szubin, Poland, electric-blue tendrils swirled out of the sunset, forming an octopus-like display “over 90o wide and 40o high,” says Marek Nikodem, who captured the scene using his Nikon D50:

Normally confined to high latitudes, the glowing clouds have spread as far south as France. “On June 30th, I saw NLCs for the first time,” reports Laurent Laveder of Quimper, France: photo. “It was an exceptional night!” Near Montpellier in the south of France, Guillaume Cannat photographed an even brighter display: photo. “I did not think we could see noctilucent clouds so far from the pole,” he marvels.

The upshot is, if you live in Europe, be alert for NLCs. Observing tips may be found in the photo gallery:

2008 Noctilucent Photo Gallery
[NLC Tutorial] [Night-sky Cameras]

EARTH AT APHELION: Earth’s orbit around the sun is not a perfect circle, it’s an ellipse, and on July 4th, Earth will be at the end of the ellipse farthest from the sun. Astronomers call this “aphelion.” When we are at aphelion, the sun appears smaller in the sky (by 1.7%) and global solar heating is actually a little less (by 3.5%) than the yearly average. This provides scant relief from northern summer heat, however; click here for reasons why.

To commemorate the aphelion of 2008, last week Greek amateur astronomer Anthony Ayiomamitis photographed the sun setting behind the Portara, entrance to the 2500-yr-old Temple of Apollo on the Greek island of Naxos:

“The white sun, virtually at aphelion, seemed to pass right through the Portara,” says Ayiomamitis. “The presence of tourists in the foreground enriched the scene with the silhouettes they cast while marveling at the sunset.” Even a little sun is a big beauty!

more images: from Chris Kotsiopoulos on Naxos island, Greece; from Konstantinos Christodoulopoulos on the Greek island of Naxos

Komentar bertahan »

KARAKTERISTIK MASYARAKAT YANG TAHAN BENCANA


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:Arial; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:64.8pt 64.8pt 64.8pt 64.8pt; mso-header-margin:35.3pt; mso-footer-margin:35.3pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1825707443; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-772536690 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

MENGGUNAKAN

“KARAKTERISTIK MASYARAKAT YANG TAHAN BENCANA”

Permintaan Umpan Balik

Terima kasih atas minat anda untuk menguji coba Karakteristik Masyarakat yang Tahan Bencana. Kami mengundang anda untuk memberikan pendapat anda tentang manfaat serta informasi tentang bagaimana anda telah memanfaatkan atau menerapkan buku tersebut.

Dokumen Karakteristik adalah sebuah buku sumber, bukan sebuah buku petunjuk. Buku ini dirancang untuk mendukung proses-proses mobilisasi dan kemitraan masyarakat. Para pengguna dapat memilih informasi dan gagasan-gagasan yang relevan dari dokumen ini untuk mendukung kerja lapangan mereka sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya.

Karakteristik dapat digunakan untuk berbagai tujuan, dalam kerja-kerja lapangan, pelatihan dan penelitian. Dokumen ini antara lain bermanfaat dalam perencanaan dan pengkajian pra-proyek, pengkajian risiko dan kerentanan, pelatihan-pelatihan dan kursus pengenalan, pemantauan dan evaluasi, peningkatan kapasitas, sebagai satu kerangka kerja penelitian, dan sebagai alat advokasi. Dokumen ini memberikan sejumlah gagasan tentang hal tersebut namun semuanya diserahkan kepada para pengguna untuk memutuskan bagaimana mereka menerapkan Karakteristik sebaik-baiknya.

Versi revisi Karakteristik akan dipublikasikan dalam sesi kedua Platform Global PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UN Global Platform for Disaster Risk Reduction) pada Juni 2009. Selain pemutakhiran tabel-tabel tentang ketahanan, versi revisi juga akan berisi tentang satu bagian baru tentang cara-cara untuk menggunakan Karakteristik. Kami mengandalkan masukan anda untuk membantu menulis ini.

Semua umpan balik akan diterima dengan baik, bahkan jika anda hanya bisa mengirimkan umpan balik yang singkat. Silahkan mengirimkannya karena hal itu akan membantu agar Karakteristik bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat, pekerja lapang, guru dan peneliti.

Untuk melancarkan proses pengumpulan umpan balik ini, kami telah merancang satu format yang bisa menjadi acuan yang memberi penekanan pada jenis-jenis informasi yang akan berguna bagi kita (lihat halaman selanjutnya) dalam memberikan panduan tentang cara menerapkan Karakteristik serta dalam memberikan studi-studi kasus tentang berbagai jenis pemanfaatan yang berbeda. Format tersebut sederhana: hanya beberapa bagian dengan beberapa penjelasan dan anda dapat menulis sesedikit mungkin atau sebanyak mungkin yang anda mampu. Harap kirimkan salinan dokumen, gambar, video dan lain-lain yang relevan kepada kami.

Jika anda ingin mengetahui contoh-contoh studi kasus yang telah ditulis, silahkan mengajukan permintaan kepada kami.

Kami menunggu kabar dari anda,

John Twigg (untuk DFID DRR Interagency Coordination Group) j.twigg@ucl.ac.uk


MENGGUNAKAN

“KARAKTERISTIK MASYARAKAT YANG TAHAN BENCANA”

Format Umpan Balik yang Diusulkan

Format ini dirancang untuk memberikan umpan balik yang akan berguna bagi prakarsa Karakteristik Masyarakat yang Tahan Bencana, namun juga akan berguna bagi jenis pemanfaatan apa pun. Anda bisa menggunakan bagian yang berbeda atau struktur yang anda sukai.

Bahkan jika anda tidak mempunyai waktu untuk menuliskan umpan balik yang panjang, mohon tuliskanlah sesuatu! Setiap potong informasi akan berguna bagi kami untuk memperbaiki Karakteristik bagi para pengguna di masa mendatang. Tanggapan dalam bentuk catatan atau poin-poin singkat juga diterima.

Usulan struktur:

1. Judul: satu baris, menyimpulkan penerapannya.

2. Pendahuluan singkat, termasuk informasi tentang tanggal dan tempat penerapan dan siapa yang terlibat dalam aktivitas tersebut.

3. Tujuan dimana diterapkannya Karakteristik

4. Metode yang anda gunakan. Mohon berikan sebanyak mungkin informasi praktis tentang proses yang anda lewati karena hal ini akan membantu orang lain yang ingin menerapkan pendekatan yang sama.

5. Hasil dari penerapan.

6. Keluaran, jika relevan (misalnya proposal proyek, laporan evaluasi) – mohon lampirkan keluaran apa pun.

7. Pelajaran yang dipetik – tentang Karakteristik itu sendiri serta cara anda menerapkannya.

8. Kesimpulan atau gagasan-gagasan akhir.

Harap mengirimkan umpan balik anda ke John Twigg (j.twigg@ucl.ac.uk)

Untuk umpan balik dalam bahasa Indonesia, anda dapat mengirimkan ke Plan Indonesia (indonesia.co@plan-international.org) yang kemudian akan diterjemahkan dan diteruskan kepada John Twigg.

Terima kasih atas bantuan anda!

Komentar bertahan »

Dua Kilometer Bantalan Rel Diperbaiki, Romeo: Upaya Mengurangi Kecelakaan KA

Jumat, 04 Juli 2008
Sample ImagePadang, Padek—Proses perbaikan bantalan rel kereta api di sepanjang jalur lintasan Simpangharu Padang hingga perlintasan rel kereta api Aur Duri Padang sangat dikeluhkan para pengguna jalan. Pasalnya, perbaikan jalur lintasan itu mengganggu kenyamanan berkendaraan. Selain menjadikan arus lalu lintas tersendat, terkadang juga menyebabkan kemacetan. Penuturan Rangga,
salah seorang pengguna jalan yang melintasi jalur lintasan kereta api Simpangharu ketika dimintai komentarnya, dia mengatakan perbaikan jalur lintasan tersebut jelas sangat mengganggu para pengguna jalan, bahkan bisa menyebabkan kecelakaan kalau tidak berhati-hati. Belum lagi abu yang berterbangan yang dapat menghalangi pandangan mata bagi pengendara roda dua. Menurutnya, perbaikan itu sebaiknya dikerjakan pada waktu malam hari, karena pada waktu itu tingkat arus lalu lintas tidak begitu sibuk dan para pekerja pun dapat lebih nyaman dalam bekerja, karena tidak terusik oleh para pengguna jalan.

“Kita berharap perbaikan ini dapat segera diselesaikan, sebab jika dibiarkan berlama-lama maka akan berimbas pada terganggunya kelancaran arus lalu lintas di jalur tersebut karena laju kendaraan tertahan agak lama,” ujar Rangga yang sempat terjebak macet selama 15 menit ketika melewati jalur tersebut pada pagi hari.

Diana, pengguna jalan lainnya juga mengutarakan hal yang sama. Dia berharap perbaikan jalan itu bisa segera diselesaikan.Sebab, kalau tidak begitu, dikhawatirkan akan bisa menghambat aktivitas masyarakat yang melintasi jalur itu.

Kurangi Kecelakaan

Sementara, Humas PT KA Divre Sumbar Romeo mengungkapkan perbaikan jalur lintasan tersebut merupakan upaya mengurangi kecelakaan akibat kerusakan bantalan rel kereta api. PT Kereta Api Divre Sumbar melakukan perbaikan jalur aktif lintasan kereta api. Yakni di lintasan Stasiun Padang sampai perlintasan rel kereta api di Aur Duri Padang dengan panjang sekitar 2 kilometer.Sample Image

Menurutnya, perbaikan jalur perlintasan tersebut tidak mengganggu jadwal keberangkatan kereta api. Karena perbaikan bantalan kereta api pengerjaannya dilakukan mulai  pukul 22.00 WIB hingga pagi. “Perbaikan jalur kereta api tidak menganggu kereta api yang akan lewat. Kalau pun menganggu arus lalu lintas jalan raya akibat perbaikan rel ini tidak terlalu lama.

Perbaikan Rel KA : Tiga orang pekerja sedang menimbun bantalan rel kereta api yang terdapat di kawasan Simpangharu dengan kerikil. Ini dilakukan sebagai upaya perbaikan sejumlah jalur rel kereta api yang ada di Kota Padang.

Seperti kejadiaan tadi pagi (kemarin pagi) di Simpangharu tidak menutup akses jalan raya berlama-lama. Karena pengerjaannya dilakukan pada malam hari,” kata Romeo lagi. Ditambahkan Romeo, perbaikan perlintasan rel kereta api Stasiun Padang- Aur Duri Padang mendapatkan skala prioritas karena termasuk jalur aktif  dari Stasiun Padang-Bukitputus.

Jika bantalan ini tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan akan menyebabkan kecelakaan di perlintasan tersebut.
Perbaikan ini menurutnya dilakukan secara bertahap. Perbaikan jalur perlintasan ini menggunakan dana APBN melalui Dinas Perhubungan Sumbar. Dijelaskan Romeo, masih ada beberapa perlintasan yang bantalannya perlu  diganti. Seperti di perlintasan Lubuk Alung-Pariaman.

Karena sejumlah bantalan di kawasan ini sudah banyak yang mengalami kerusakan. “Kali ini bantalannya menggunakan beton. Jika sebelumnya menggunakan kayu ini akan rawan lapuk. Sedangkan jika menggunakan besi rawan berkarat. Makanya kali ini menggunakan beton biar lebih tahan lama,” kata Romeo. (mg15/afi)

Komentar bertahan »

Simulasi Latihan Evakuasi Gempa di Kantor Balaikota Padang

PadangKini.com | Rabu, 25/6/2008, 7:08 WIB

PADANG--Bunyi sirine tanda peringatan dini gempa dan tsunami berdering, puluhan pegawai Pemko Padang segera berhamburan keluar ruangan. Beberapa diantaranya terlihat menggunakan radio HT.

Tidak lama berselang datang ambulan untuk mengevakuasi seorang ibu hamil dan seorang korban trauma. Sementara seorang korban patah kaki tertimpa tembok bangunan diturunkan dengan tali dari lantai empat gedung Balaikota.

Setengah jam setelah kejadian, terjadi kebakaran di Lapangan Imam Bonjol. Satu unit mobil kebakaran dan sejumlah petugas berusaha memadamkan api dan upaya itu berhsil 10 menit kemudian.

Rangkaian kegiatan itu merupakan simulasi peningkatan aparatur pemerintah dalam penanggulangan bencana, di pelataran kantor Balaikota Padang, kemaren.

Simulasi itu diikuti sekitar 30 staf Pemko Padang, Dinas Kebakaran dan Komunitas Siaga Tsunami (Kogami).

Manager Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Kogami, Solomuan, mengatakan simulasi itu sebagai upaya untuk menimbulkan kesadaran penanggulangan bencana bagi masyarakat khususnya staf Pemko Padang.

Namun ia sedikit kecewa karena peserta simulasi terkesan tidak serius dan banyak yang tertawa-tawa.

“Ini lebih buruk dibanding simulasi staf sekretariat DPRD Sumbar yang lalu,” katanya.

Menurut Solomuan, simulasi serupa akan digelar di semua kantor instansi pemerintah. Selain itu juga akan diadakan di Kabupaten Mentawai dan Pariaman. (april/

Komentar bertahan »

Kota yang Semakin Tak Ramah kepada Sepeda

Senin, 16 Juni 2008 | 00:11 WIB

Kenaikan biaya angkutan kota untuk pelajar sebesar 100 persen dari Rp 1.000 menjadi Rp 2.000 sekali jalan membuat para ibu kelas menengah apalagi kelas bawah semakin kebingungan menentukan uang saku anaknya. Memperbolehkan anak naik sepeda seperti saat mereka bersekolah dulu jelas tidak mungkin. Lalu lintas Kota Medan dan sarana jalannya semakin tidak memberi akses dan ruang bagi warganya untuk bersepeda, apalagi anak-anak. Mengizinkan anak bersepeda ke sekolah melewati jalan aspal seperti menjerumuskan anak pada maut.

Dana Tarigan, aktivis Gerakan Pelajar/Mahasiswa Hijau Medan, mengaku sering sekali dicaci pengemudi kendaraan lainnya saat naik sepeda. Mahasiswa Universitas Nommensen yang mengaku setiap hari naik sepeda ke kampusnya dari rumahnya di kawasan Gatot Subroto itu merasa pengendara sepeda di Kota Medan sangat tidak dihargai.

Akses jalan untuk mereka tidak ada. Moda transportasi ramah lingkungan dan sehat itu melaju bercampur dengan kendaraan yang lebih cepat, bahkan kendaraan angkutan berat. Akibatnya, sepeda semakin tersingkir.

Namun, Dana membuktikan, kalau tidak tergesa-gesa, naik sepeda itu irit karena tak perlu beli bahan bakar.

Hayarni Tanjung (35), ibu rumah tangga yang tinggal di Sunggal, mengaku serba salah. ”Saya pernah tawari anak saya naik sepeda, anak saya mau dan senang. Namun, bagaimana saya bisa lepaskan dia, lalu lintas di Medan begini simpang siur,” tutur Hayarni.

Kenaikan harga BBM membuat biaya transportasi ke sekolah meningkat pesat. ”Bayangkan jika harus ganti kendaraan umum dua kali untuk berangkat sekolah. Biaya transportasi jadi Rp 8.000 sehari,” tutur ibu dua anak yang gajinya tak lebih dari upah minimum provinsi. Kalau sebulan 25 kali masuk sekolah, biaya transportasi yang harus dikeluarkan menjadi Rp 200.000. Belum uang jajannya.

Hayarni mengaku, akhir era 80-an hingga awal 90-an ia masih ke sekolah dari kawasan Sunggal hingga ke Pinang Baris naik sepeda. Dulu nyaman-nyaman saja. Namun, bertambahnya angkutan pribadi membuat jalan semakin padat. Apalagi pemerintah kota pun tak memberi ruang untuk jalan sepeda.

Tak banyak orang bersepeda di Kota Medan. Di perhentian lampu merah perempatan Jalan Sudirman dengan Jalan Juanda, Minggu (15/6) sekitar pukul 11.00, misalnya, hanya ada tiga orang mengendarai sepeda di tengah puluhan kendaraan roda empat dan sepeda motor. Satu orang dari Jalan Sudirman, satu orang dari Jalan Hang Lekiu, dan satu dari Jalan Juanda.

Kemarin, Dana dan puluhan temannya menggelar kampanye damai di jalanan Medan soal penggunaan sepeda. Mereka naik sepeda keliling Medan dan berhenti di depan Tugu SIB, membagikan stiker dan masker sambil kampanye soal pelestarian alam. Bisa jadi banyak orang mencibir, tetapi aksi mereka terus jalan.

Imran Gultom, petugas polisi yang menjaga aksi damai itu, bercerita, lima tahun lalu warga seputar Tembung masih suka naik sepeda ke Kota Medan. Sekarang, saat kredit kendaraan begitu murah, orang ramai-ramai beralih ke sepeda motor sehingga sepeda semakin ditinggalkan.

”Saya pun tak tega kalau lihat anak saya ke kampus naik sepeda,” tutur Imran. Hanya anak terkecilnya yang masih duduk di bangku SD ia perbolehkan naik sepeda karena lokasi sekolah tak jauh dari rumah. (AUFRIDA WISMI)

dikutip dari kompas

Komentar bertahan »