Arsip untuk Uncategorized

RADIO KOMUNITAS SUMATERA BARAT

walaupun dalam keadaan bencana radio komunitas harus terus siaran. radio komunitas yang terus siaran sampai saat ini di padang pariaman adalah sebagai berikut :

1. Radio Komunitas Kiambang FM

2, Radio KOmunitas Bahana FM kota pariaman

3. radio Komunitas Suandri FM

4. Radio Komunitas Tanggap darurat PAdang sago FM

dan beberapa di luar wilayah tersebut juga masih bersiaran.

salah satu siaran di radio kiambang fm

siaran sementara kiambang FM

SIARAN Darurat

salah satu penyiar di kiambang FM, aweng mengatakan “banyak masyakarat di seputaran kiambang yang merequest lagu” untuk hiburan dan penghilag rasa penat yang dirasakan setelah seharian antri bantua.

sekarang radio komunitas kiambang Fm sudah bisa siaran penuh yang sebelumnya hidup mati-hidup, karena kurangnya pasokan listrik di rumah.

Studio yang dulu digunkan juga hancur, bagian belakang, yang sekarang digunakan menajdi dapur,  siaran sekrang luar studio karena bantuan 1 set pemancar dari radiio RNL perangkat tersebut dapat di pindah-pindah.

tetap semangat.

demikian.

Komentar (1) »

catatan Paska Gempa 1

Gempa 30 September 2009, masih menyisakan kesediahan yang mendalam, karena samapai sat ini dibeberapa daerah masih tampak onggokan bangunan yang belum dibersihkan padahal proses tanggap darurat akan segera berakhir.
akan kah terus keadaan bengini samapi tahp recovery dan reconstruksi berjalan, ataukah memang sudah hilang budaya gotong royong di minang yang dulu kita banggakan?, kemudian yang kedua, sepanjang jalan di daerah bencana nampak mande dan anak-anaknya ikut menyodorkan kardus bekas bungkus mie instan, kepada setiap yang lewat, mengharapkan bantuan dan orang yang lewat, hilangkah budaya raso pareso di negeri yang elok ini, sehingga anak-anak dan mandenya ikut “mengemis” di tepi jalan menanti belas kasihan. yang ketiga hadirnya bantuan yang bertumpuk disekitar kita, sudahkah kita juga melihat ada sanak sudara kita yang masih kekurangan di pojok nagari yang susah akses transportasi. ataukah ada pola distribusi bantuna yang pas.
yang ke empat, kesiapan kita dalam menghadapi rekonstruksi yang begitu pelik, tentunya menjadi catatan tersendiri, karena proses rekonstruksi gempa 2 tahu yang lalu belum beres, kemudian disusul dengan gempa yang kali ini,
jadi dari manakah kita mulai, ya dari kesadaran yang “dapek kito pacik basamo-samo”

Komentar bertahan »

Rekonstruksi Sumbar Dilakukan Seperti Rekonstruksi Yogyakarta

Kamis, 15 Oktober 2009 23:47 WIB 0 Komentar
Penulis : Thalatie Yani

JAKARTA-MI: Pemerintah menetapkan rekonstruksi dan rehabilitasi
pascagempa Sumatera Barat (Sumbar) dan Jambi dilakukan seperti
rekonstruksi dan rehabilitasi di Yogyakarta. Tapi juga mengambil pola
Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh dan Nias.

“Pola penanganan seperi tsunami di Aceh, partisipasi masyarakat dapat
tertampung lebih maksimal. Pola Yogya untuk perumahan, BRR yang lain
agar akuntabilitynya lebih terjaga,” tukas ketua BNPB Syamsul Maarif
usai mengikuti sidang kabinet terbatas diperluas di seketariat negara,
Jakarta, Kamis (15/10).

Dalam sidang kabinet terbatas diperluas itu Presiden memerintahkan menko
kesra Aburizal Bakri, Menkoperek Sri Mulyani dan BNPB menyampaikan
saran. Mereka juga akan menyampaikan penetapan tanggapdarurat selesai
dan dimulainya masa rekonstruksi dan rehabilitasi pada saatnya nanti.
Masa tanggap darurat selesai setelah verivikasi kerusakan bangunan selesai.

“Verifikasi dilakukan 15 hari sejak tanggal 5 Oktober. Dilakukan dua
kali, pertama oleh wakil gubernur dengan 700 mahasiswa dan kedua oleh
Bappenas, PU dan BNPB,” papar Syamsul.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengatakan untuk tanggap darurat,
utamanya penyelamatan korban sudah dihentikan sejak Rabu (14/10). “Sudah
tidak ada laporan orang hilang lagi dan masyarakat telah merelakan
wilayah di Agam dan Pariaman yang tertimbun menjadi kuburan massal,”
ujarnya.

Pemenuhan kebutuhan dasar sudah didistribusikan. Hingga saat ini beras
tang didistribusikan seberat 400gr per orang dan Rp5.000 per hari per
orang untuk lauk pauk. Stok beras tersedia 13 ribu ton, untuk memenuhi
kebutuhan dasar empat bulan.
Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengatakan pemeritah sudah mendrop 6000
tonberas dalam waktu dekat. Stok tersisa di dolog sebesar 14 ribu ton
guna menghidupi masyarakat Sumbar 4 bulan lamanya. Uang lauk pauk 5 ribu
orang, per hari. untuk 20 hari, total yang sudah dicairkan Rp44 milyar.

Mengenai hunian masih sebanyak 90ribu kepala keluarga yang kekurangan
tenda. Namun 2/3 akan dipenuhi minggu ini.
“Sisanya gubernur mempunyai insiatif memberi alat pertukangan untuk
membuat shelter. Mereka mampu menggunakan sisa bangunan untuk membuat
shelter yang lebih aman,” tukas Syamsul.

Kebutuhan dasar air minum, energi listrik berjalan normal. Air minum 80
persen. Padang Pariaman listrik menyala 100 persen. Sekolah rusak 3100
dan diharapkan minggu ini selesai untuk sekolah sementara. Setiap kelas
yang satu lokal mendapatkan Rp8 juta.

Mengenai pemenuhan kebutuhan dasar hunian, akan dibagi menjadi tiga
cluster. Pertama perumahan, kedua perkantoran dan terakhir ialah
fasilitas umum.

Sementara itu Gamawan mengungkapkan 1117 orang meninggal. Yang berhasil
teridentifikasi sebanyak 907 orang. Yang lain tertibun tanah longsor,
yakni 210 orang. Mereka sudah dibuatkan daftar nama dan tidak
diidentifikasi lagi karena ketebalan tanah lebih dari 10 meter. (Rin/OL-7)

http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/10/100469/126/101/Rekonstruksi-Sumbar-Dilakukan-Seperti-Rekonstruksi-Yogyakarta

Komentar bertahan »

RANAH MINANG BERDUKA

semoga masyarakat yang ada di sumatera barat, padang, Pariaman, padang pariaman, mentawai, Pasaman, semoga tetap di beri ketabahan dalam menerima keadaan.

Komentar bertahan »

Longsoran dan Danau, Akibat Gempa dan Patahan

Longsoran dan Danau, Akibat Gempa dan Patahan

9 Agustus 2006 at 3:32 pm | In Dongeng Geologi |

strikeslip1a.jpgGoyangan gempa yg dirasakan di jogja tidak hanya merusak bangunan tetapi juga merubah topografi atau bentuk rupa bumi. Daerah-daerah berlereng curam yg dalam kondisi kritis menjadi tempat-tempat berbahaya ketika terjadi goyangan gempa. Waktu simposium internasional kebumian awal Agustus 2006 lalu Ibu Dwikorita ‘Longsorwati’ (looh beliau kan ahli perlongsoran hingga meraih Phd loh) menjelaskan didalam simposium ahli kebumian dunia di Jogja awal Agustus lalu. Tapi tulisannya bahasa dewa, aku critanya pakai gambar kartun dan bahasa Tarzan saja ya … )

Eh bisa membentuk danau, ngga ? :p

Longsoran yg dipicu gempa.

lereng.jpgGambar disebelah ini memperlihatkan tempat-tempat yg memilki lereng curam. Peta ini dibuat oleh BAISDA Jogja (Badan Informasi Daerah). Perhatikan warna merah merupakan daerah yg lerengnya curam, sedangkan warna hijau daerah yang landai. Di bagian tengah ada kotamadya Jogja dan Bantul berwarna hijau, artinya lerengnya landai kurang dari 8% atau kurang dari 5 derajat. Di sebelah timur dan barat berupa perbukitan dengan lereng curam.

longsoran.jpgNah sekarang dibandingkan dengan peta longsoran yg ada. Coba perhatikan lokasi longsoran yg dijumpai oleh Bu Doktor Rita ‘Longsorwati’ ini. Ternyata dibagian timur pegunungan ini terpadat longsorannya. Sedang di bagian barat tidak dijumpai longsoran. Ingat nggak ? beberapa tahun lalu Bu Rita ini juga menangani longsoran di daerah Kulon Progo, namun alhamdulillah, kali ini di Kulon Progo aman dari bencana longsor yg dipicu gempa. Kenapa hayoo ? Iya karena longsoran di Kulon Progo dipicu oleh curah hujan yg tinggi !

OK, kita tengok lagi gambar di atas. Terlihat bahwa memang longsoran (Rock Slide) serta jatuhan (Rock Fall) banyak sekali terjadi pada lereng-lereng yg kritis ini disekitar pusat gempa. Dengan demikian kita tahu bahwa longsoran-longsoran itu memang benar dipicu oleh gempa. Di Pantai Parag tritis anda dengan mudah melihat jatuhan (rock fall) di dinding bukit sebelah timur pantai.

Longsoran yg menyebabkan rumah turun hingga 8 meter !

Mungkin ada yg bertanya-tanya, bagaimana longsoran ini terjadi ? Aku yakin, trus ada yang pingin tahu apakah tanah yg turun ini bisa membentuk danau akibat tanah yg turun ini ? Loh wong contohnya memang ada kok. Di sepanjang patahan Sumatra terdpat dua danau besar yg sangat terkenal akibat pergeseran patahan Sumatar. Jangan-jangan diJogja juga begitu nantinya.

Jangan kuwatir, ketakutan anda memang wajar kok. Lah wong ada rumah yg turun hingga 8 meter dan begeser lebih dari 20 meter je. Apa ndak itu menunjukkan bahwa tanahnya turun ?

Sekarang, mari kita lihat penampangnya. (klick aja kalau mau memperbesar gambarnya, ya).

slidingDisebelah ini memperlihatkan penampang (atau kalau dilihat dari pinggir), bagaimana terjadinya turun dan bergesernya rumah hingga 8 meter vertikal dalam waktu sekejap. Lah, kalau terbentuk danau dalam sekejap lah ya medeni lan nggegirisi ta ya … menakutkan juga, kan ?

Nah dari penampang tersebut terlihat bahwa adanya bidang luncur (slide surface), juga terlihat adanya rekahan-rekahan dibagian atas. Ini jelas sekali menujukkan bahwa turunnya rumah tersebut sebenernya memang menurunnya permukaan tanahnya akibat bergeser sambil turun akibat longsoran. Disitu terlihat bahwa rumah yg diatas turun, iya hingga 8 meter dan bergeser hingga 20 meter. Wah itu halaman rumahnya tambah luas donk .. upst !

Coba perhatikan bahwa rumah yg berada dibawah lereng yg curam rawan longsor juga berbahaya tertimpa timbunan tanah.

Looh kan longsoran itu terjadi disekitar patahan Opak juga , kan ?
Iya memang, tetapi longsoran tersebut bukan pada bidang-bidang patahan yg ada di sekitar Opak. Sehingga penampang-penampang ini akan mirim dijumpai dibeberapa tempat di pinggiran lereng-lereng curam yg terlihat dalam peta (gambar) diatas itu.
Tapi kan deket dengan patahan kan ?
Duh, pasti banyak yg khawatir dengan patahan sepanjang Sungai Opak ini kan ?

eh, sebenernya yg bergerak itu bukan patahan sepanjang opak, Nanti saya tuliskan ditempat lain tentang patahan dan gempa-gempa ini dari buntut gempa yg diteliti ahli geofisika dan erthquake geologist ini di artikel tentang “buntut gempa” (after shock).

Jadi yg seperti apa patahan yang membentuk danau ?

strikeslip1a.jpg Patahan yg membentuk danau di Sumatra berupa patahan geser (strike slip). Patahan geser ini tentusaja tidak lurus seperti garis. Patahan ini dapat berbelok-belok. Apabila belokannya stepping atau loncatannya ke kanan seperti yang terlihat di gambar samping, maka ada bagian-bagian tertentu, di tempat belokan itu, akan membentuk graben atau cekungan. Graben atau cekungan inilah yg kalau terisi air maka akan membentuk danau.

strikeslip2.jpgDisebelah ini kalau saya potong penampang diatas sesuai garis A-B. Maka terlihat profil dari danau yg terbentuk akibat patahan geser. Danau di Sumatra yg terbentuk akibat patahan geser sumatra ini yg terkenal adalah Danau Singkarak dan danau Ranau. Wah bagus dan indah looh kedua danau ini. Dan jangan kaget, danau Singkarak ini memiliki kedalaman hingga 268 meter !!. Bayangkan kedalaman laut jawa itu maksimum mungkin 30-50 meter saja.

Patahan Opak, sependek pengetahuanku, bukanlah patahan geser tetapi patahan normal atau patahan turun, dimana daerah jogja-bantul merupakan daerah yg turun. Yang tidak turun itu daerah perbukitan Wonosari, yang kalau dari parang tritis jelas banget terlihat tebing-tebingnya.

Gimana ?
Beda kan ? pembentukan danau dengan longsoran yg terjadi di Bantul kemarin tidaklah sama. Buat kawan-kawan di Bantul jangan takut Kota Bantul tenggelam, buat kawan di Sumatra anda beruntung memiliki danau yang indah. Namun kawan saya semua di Sumatra maupun Bantul tentunya harus tetap wasada dengan bahaya gempa yg dipicu longsoran.

Skalian ngingetin tetang bahaya longsoran ya, aku ambil dari selebarannya dari LIPI, Bulan-bulan ini merupakan bulan yg penting karena kondisi curah hujannya :

  • Juli = Perhatian pada awal musim hujan
  • Agustus dan September = pemeliharaan lingkungan
  • Juni dan Oktober = Waspada
  • Mei dan November = Bahaya
  • Desember sampai April = AWAS !

Referensi :

  • Dwikorita Karnawati And Teuku Faisal Fathani, 2006, Mechanism And Impact Of Earthquake Induced Landslides In Yogyakarta Province, Indonesia.
  • –, Atlas Kawasan Gempabumi 27 Mei 2006. edisi 27 Juni 2006. Pemda DIY dan Pemda Jateng.

Komentar bertahan »

’Paradigma’ Pemberdayaan

padang ekspres, Selasa, 13 Mei 2008
Active ImageOleh : Fuad Madarisa, Staf pengajar Pascasarjana Unand Padang
Apa perkembangan pemikiran pembangunan yang mengemuka selama satu dekade terakhir ?.  Sepuluh tahun semenjak reformasi memberikan sejumlah trend pembangunan pada kita. Kecendrungan yang terjadi, antaranya adalah; Pertama, menguatnya wacana civil society – atau masyarakat madani. Pergeseran nampak menuju kepada peran lebih besar dari masyarakat sipil dalam kerangka kehidupan negara yang lebih demokratis.

Kedua,  arah dan fokus membahas pembangunan yang berbeda.  Sebelumnya berkutat terutama tentang pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Kini justru mengupas persoalan kemiskinan dan wilayah pedesaan.  Selanjutnya pembangunan yang tidak bias kota atau meluber dan berat kekota. Berikutnya upaya untuk memberi penghargaan pada dimensi lingkungan hidup dan generasi masa datang. Ketiga, perencanaan terpusat melonggar menuju lebih fleksibel dan partispatif. Keputusan perencanaan lebih banyak terjadi di daerah. Partisipasi stakeholders dalam proses perencanaan juga semakin penting. Mereka mendapatkan akomodasi dalam pengambilan kebijakan publik, melalui pembukaan ruang atau payung aturan baru.

Keempat,  kebebasan pers dan berpolitik semakin besar. Sebaliknya,  ini membawa pada mengecilnya tekanan bagi upaya mengusung aspirasi masyarakat. Buktinya, partai dan media massa tumbuh bagai cendawan dimusim hujan.  Kelima, bertambahnya kiprah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Walau sempat terpangkas ketika peristiwa merdekanya Timor Leste, LSM memainkan peran lebih besar pula. Baik tingkat lokal, nasional ataupun internasional.

Semua gejala ini mengacu pada sejumlah esensi; (a) otonomi pengambilan keputusan, (b) semakin percaya dan tergantung pada kemampuan sendiri, (c) partisipasi langsung masyarakat dan (d) proses belajar sosial.  Suatu proses belajar dan berubah yang tidak linear, melainkan ber’siklus’, dimana ‘hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini’.  Keseluruhan kecendrungan diatas mengerucut kepada satu kata, yaitu; “pemberdayaan”.

Nampaknya, upaya dan cita-cita untuk berdaya mengusik paradigma atau pandangan pembangunan yang dominan selama ini. Sebab pemberdayaan masyarakat, tidak hanya seperti pemahaman tentang pembangunan – sosial, ekonomi, kemiskinan dan lingkungan – belaka. Pemberdayaan, juga menempatkan kakinya pada basis moral, etika dan budi pekerti. Sehingga, pemberdayaan termasuk dalam upaya penerapan demokrasi, ekonomi berkeadilan, kesamaan hak dan keberlanjutan bagi generasi mendatang. John Friedman menyebutnya sebagai ‘the politics of alternative development’.

Bagi Kuntowidjojo, dengan basis moral dan etika itu, maka, pemberdayaan suatu masyarakat hanya bertolak dari tiga konsep nilai; ’humanisasi, liberasi dan transendensi’. Sebab manusia terbaik, dasarnya memang konsep nilai ini. Simak kutipan berikut; “Kamu adalah umat yang paling baik, yang dilahirkan bagi manusia. Kamu menyuruh melakukan yang benar (humanisasi), dan melarang yang mungkar (liberasi). Dan kamu beriman kepada Allah (transendensi). Sekiranya ahli Al-Kitab beriman, tentu lebih baik baginya. Diantara mereka ada yang beriman, tapi kebanyakan mereka melanggar perintah Tuhan (Q; 3:110).  Wahyu, oleh karena itu, merupakan sumber kebenaran yang perlu kita terapkan dan temukan dalam dimensi ruang dan waktunya.

Namun pemberdayaan tidak bakal menggantikan semua yang telah ada. Tujuannya agar ada upaya mengakomodasi kepentingan kelompok masyarakat yang terabaikan untuk masuk kedalam proses pengambilan kebijakan ekonomi dan politik. Ada penghargaan dan pembukaan peluang mereka sebagai manusia dan masyarakat dalam proses pembangunan itu. Dalam perspektif ini, kelompok kelompok masyarakat memainkan peran vital dan penting.

Karena itu, dengan menguatnya paradigma pemberdayaan, kita membutuhkan cara cara menumbuhkan, memelihara dan memfasilitasi kegiatan kelompok. Katakanlah, semacam buku petunjuk ’seperti cara memasak’ yang detil. Buku itu mampu menyajikan cara cara bekerja dan belajar bersama kelompok. Sehingga, pada gilirannya lembaga, institusi atau kelompok mampu menghasilkan kinerja yang memperbaiki anggota dan bangsa ini. Bukan sebaliknya, anggota terjebak dalam struktur, yang menjadikan mereka budak hierarki lembaga. Lalu, bekerja tanpa banyak menggunakan ‘kepala’, karena tidak ada yang sanggup merubahnya. ***

Komentar bertahan »

ACARA TEMU NASIONAL TV KOMUNITAS

Dear all,

Kegiatan temu nasional tv komunitas dilaksanakan sesuai jadwal. Tanggal 17-18 Mei 2008 kegiatan khusus buat teman-teman pengelola media di SMK. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan diskusi bersama teman-teman pengelola media komunitas (berbasis warga) pada tanggal 18 Mei 2008. Tanggal 19-20 Mei 2008 agenda pembentukan asosiasi televisi komunitas Indonesia. Bersamaan dengan agenda itu, tanggal 20 Mei 2008 juga diadakan diskusi tentang Televisi Komunitas dan Media Literasi, yang kemudian dilanjutkan dengan orasi kebudayaan bersama Ahmad Tohari serta Deklarasi TV Komunitas Indonesia.

Pendaftaran peserta sudah ditutup. Mohon biaya partisipasi peserta nanti langsung disampaikan pada panitia pada saat registrasi. Lokasi pendaftaran di Grabag TV (Rumah Pak Hartanto). Selanjutnya peserta akan diantar oleh petugas/panitia menuju rumah-rumah pondokan. Kontak Panitia (Pak Pri) di nomor 0818-464-892.

Berikut update daftar peserta yang telah mengirimkan lembar konfirmasi keikutsertaan dalam temu nasional televisi komunitas :

1.  Ch. Kunthi Tunjungsari/ UGM-Yogyakarta (P)
2.  Ikhwanudin/SMKN 1 Kedawung-Cirebon (L)
3.  Dyah Aryani/MPPI- Jakarta (P)
4.  Edwin Jurriens/Australia (L)
5.  Marzuni/Studio 42C-Padang (L)
6.  Darmanto/BPPI- Yogyakarta (L)
7.  Kusuma Prabawa/Swadesi- Yogyakarta (L)
8.  Cristina Indrayati/SMKN 10-Medan (P)
9.  Langgeng Budiharso/SMKN 1-Kendal (L)
10. Amirsyah Tambunan/MUI- Jakarta (L)
11. Ali Asman/SMKN 2-Pariaman (L)
12. Ardinur Mahyuzar/SMKN 2-Langsa NAD (L)
13. Makmur L/SMKN 2-Langsa NAD (L)
14. Sujadi/Pati (L)
15. Dedi Gunawan/Kompak- Jakarta (L)
16. Timbul/Pati (L)
17. Hervy Aria Putra/CNO TV-Malang (L)
18. Dick Faizal Akbar/SMKN Karawang (L)
19. Tuntun Ariwibowo/TV- E-Jombang (L)
20. Isdarmanto Agus Widodo/SMKN3- Jombang (L)
21. Sri Budiyati/SMKN 1 KLaten (P)
22. Pakit Harcandawati/ SMKN 1 KLaten (P)
23. M sami/SMKN 1 Klaten (P)
24. Suroto S. Toto/Purworejo TV-Purworejo (L)
25. Fadilah Efendi/SMKN1 Bawang-Banjarnegara (L)
26. Supriyana/SMKN 1 Magelang (L)
27. Bambang Yisminarto/SMK Salatiga (L)
28. Yuliatmoko/tv- E Cilacap (L)
29. Anom Joyo Pranoto/Kendal (L)
30. Lucia Hartiningtyas/ BLPT Semarang (P)
31. Handaya/BLPT Semarang (L)
32. Ponidi/BLPT Semarang (L)
33. Tedi Ahmad Santosa/SMKN 1 Cimahi (L)
34. Aminudin Azhari/SMKN 1 Pacitan (L)
35. Yadual Nilfa Adriyanta/Kreatif TV-Jakarta (L)
36. Asim/SMKN 1 Situbondo (L)
37. Moch Wachidin/SMKN 1 Kendal (L)
38. Rony Diesmart/SMKN 1 Kendal (L)
39. Uib Solahudin/IAIN- TV Banten (L)
40. Tanis SHD/Tunas TV-Pati (L)
41. M. Surya Syah Putra/UNPAD (L)
42. Khoirul Anam/CNO TV-Malang (L)
43. Kusumo Gambriyanto/ MMTC Yogyakarta (L)
44. Amanun Jati/MMTC Yogyakarta (L)
45. Anto Yunanto/Karawang (L)
46. T.R Umar/Aceh (L)
47. Davi Abdullah/Aceh (L)
48. Nino Rozano/Bacatanda- Jakarta (L)
49. Soraya/Univ Al-Azhar-Jakarta (P)
50. Asep Saifullah/Rumah Pena Cirebon (L)
51. Ian/Ganesha TV-Bandung (L)

Yang telah menyatakan berminat  hadir dalam temu televisi komunitas namun bisa dikonfirmasi atau belum memberikan konfirmasi/mengirim kan lembar konfirmasi adalah :

1.  Agus Yunarso/Jogya television forum-Jogyakarta (L)
2.  Mirza Jaka Suryana/Forum Lenteng-Jakarta (L)
3.  Kristanti/Semarang (P)
4.  Sanuri/Pemalang (L)
5.  Suparyono/Cirebon (L)
6.  Guntarto/Yayasan Pengembangan Media Anak-Jakarta (L)
7.  Gde Mantra/Bali (L)
8.  Junardi/Sulawesi (L)
9.  Zein Mufarih/UMY- Yogyakarta (L)
10. Muhammad Fajarudin/BLPT semarang (L)
11. Yasir Al-Fatah/Banjarmasi n (L)
12. Mukhotib/Magelang (L)
13. Iis Juli Arnowo/UI Jakarta (L)
14. Taufik Hidayat/Univ Jayabaya Jakarta (L)
15. Samiran/SMKN 1 Semarang (L)
16. Liliek Ermina/SMKN 1 Semarang (P)
17. Agus Pracala/SMKN 1 Semarang (L)
18. Anang/Animacity- Yogyakarta (L)
19. Ferdi Setiawan/Yogyakarta (L)
20. Fajar Junaedi/Yogyakarta (L)
21. Kristiawan/Tifa- Jakarta (L)
22. Tri Djoko Susilo/Magelang (L)
23. Obeng/Cirebon (L)

Peserta kegiatan Diskusi Media Literasi pada tanggal 20 Mei 2008, ada sejumlah kira 20 orang dari unsur LSM, Media dan Akademisi yang akan hadir, sekaligus menyaksikan Deklarasi TV Komunitas . Daftar nama menyusul karena masih dalam konfirmasi.

Sampai ketemu di Grabag

Tabik,

Budhi Hermanto
Pokja TV Komunitas/CRI Yogyakarta

Komentar bertahan »

Akuntabilitas Keuangan LSM Dipertanyakan

Kamis, 26 April 2007
Jakarta, Kompas – Kendati selama ini kerap mengkritik lembaga-lembaga lain, khususnya pemerintah dan legislatif agar tercipta pemerintahan yang bersih, ternyata mayoritas lembaga swadaya masyarakat di Indonesia justru tidak bisa transparan kepada publik tentang keuangan lembaganya. Bahkan, dari sisi program, banyak di antaranya yang tidak memiliki program jelas. Mereka sekadar mengejar proyek dari lembaga-lembaga pemberi proyek.

Persoalan-persoalan ini mencuat dalam diskusi “Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan LSM” yang diselenggarakan oleh Aliansi LSM Jakarta di Kantor LP3ES, Jakarta, Selasa (16/9). Pembicara dalam diskusi ini adalah Laode Ida dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Fakhrulsyah Mega dari Jaringan Independen Masyarakat Sipil untuk Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan (JARI), dan Hans Antlov dari Ford Foundation.

Menurut Laode, selama ini LSM hanya terjebak dalam masalah administrasi seputar pertanggungjawaban keuangan mereka terhadap lembaga-lembaga donor. Padahal, LSM memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Oleh karena itu, LSM sebenarnya juga memiliki kewajiban guna mempertanggungjawabkan masalah keuangan ini kepada publik.

Ada dua cara pertanggungjawaban, yakni menjelaskan kepada publik melalui media massa tentang berapa dana yang mereka terima dan dari lembaga-lembaga donor mana saja. Kedua, mereka juga perlu mempertanggungjawabkan melalui laporan tahunan kepada publik tentang program-program yang telah mereka lakukan.

“Sekarang ini banyak LSM kuning yang menjadi project hunter. Mereka hanya mengejar proyek-proyek saja. Mereka kebanyakan berkantor di Gedung Badan Perencana Pembangunan Daerah. Ini sungguh berbahaya, jika LSM sudah berkonspirasi dengan pemerintah. Bagaimana mereka mau mengkritik pemerintah untuk melakukan good governance kalau LSM sendiri terlibat dalam proyek-proyek bad governance,” jelas Laode.

Pendapat senada diungkapkan oleh Fakhrulsyah dan Hans Antlov. Fakhrulsyah menjelaskan bahwa publik berhak tahu atas laporan kinerja LSM. Pertanggungjawaban publik ini jangan dipandang sebagai upaya untuk mendapat proyek baru, tetapi LSM harus memandangnya sebagai kewajiban. Dengan begitu, interaksi politik antara LSM dan masyarakat tercipta.

Hans Antlov mengatakan, jika melihat definisinya, LSM harus bersifat sukarela, independen, nirlaba, dan tidak boleh melayani kepentingan sendiri. Namun, sifat-sifat yang mempertegas definisi LSM ini sering kali dilanggar. Salah satu buktinya, banyak sekali LSM hanya mengejar proyek dan banyak pula yang menjadikan pekerjaan di LSM sebagai sebuah mata pencaharian yang mendatangkan keuntungan. (vin)

Komentar bertahan »

Siaga Bencana Kurang Diprioritaskan Sekolah

Kamis, 17 April 2008
Sample ImagePadang, Padek– Kesiapan sekolah-sekolah yang berada di zona merah terhadap siaga bencana betul-betul menjadi pertanyaan. Dari dua sekolah yang dikunjungi Padang Ekspres kemarin, yakni SD19 Air Tawar Barat, serta SD 52 Parupuk Tabing, nampak ketidaksiapan melaksanakan simulasi gempa dan tsunami secara rutin.  Bahkan untuk SD 52 Parupuk Tabing, pengetahuan dan

pemahaman tentang evakuasi dan penyelamatan diri terhadap bencana, hanya diserahkan kepada guru olahraga saja. Kepala sekolah pun nampak bingung ketika ditanya tentang programnya terkait siaga bencana, serta perihal tidak adanya peta jalur evakuasi terpampang di sekolahnya. Tuti Sri Juwita, Kepala SD 52 Parupuk Tabing, menjelaskan sejak menjabat sebagai kepala sekolah sejak delapan bulan lalu, ia memang belum merutinkan simulasi bencana.

Selama itu, SD ini belum pernah melakukan simulasi secara menyeluruh.“Simulasi hanya dilakukan guru olahraga sewaktu jam pelajarannya. Kebetulan yang  ikut pelatihan tentang gempa dan tsunami, baik pengetahuan untuk antisipasi dan evakuasi hanya beliau seorang. Sedangkan peta jalur evakuasi, saya tidak tahu apakah dikasih Pemko atau dibuat sekolah,” kata Tuti di ruangannya kemarin. Berdasarkan informasi yang didapat dari guru sekolah yang mengajar, mereka memang tidak memberikan pengetahuan kepada siswa terkait penyelamatan dan evakuasi, seandainya terjadi bencana gempa dan tsunami. Bahkan sebagian dari mereka merasa takut kalau harus menyingung hal itu selama proses belajar mengajar (PBM). Seolah-olah bencana gempa dan tsunami benar-benar akan datang.

Lain halnya, di SD 19 Air Tawar Barat. Kendati sudah sering melakukan simulasi, diakui masih belum secara kontinu. Di SD ini, setiap guru mata pelajaran dan guru kelas sudah terlibat langsung dalam memberikan pemahaman kepada siswa tentang pengetahuan dan pemahaman akan bencana gempa dan tsunami, termasuk antisipasi, evakuasi dan tips menghadapi bencana. Kepala SD 19 Air Tawar Barat, Nurmainis didampingi guru agama, Murniati, serta guru olahraga Remonsyah, mengatakan rata-rata muridnya sudah tahu apa yang harus dilakukan seandainya terjadi bencana seperti gempa atau tsunami.  Sebagai sekolah yang jaraknya tidak begitu jauh dari pantai, diakui Nurmainis, jalur evakuasi yang paling dekat adalah ke Univeristas Negeri Padang dan SMA Pertiwi. Sebab kedua lembaga pendidikan itulah memiliki bangunan-bangunan bertingkat yang agak tinggi.

“Ketika terjadi gempa, mereka kita minta berlindung dibawah meja, sedangkan meja belajar sudah banyak yang rapuh. Selain itu, dari enam kelas yang ada, lantainya pun banyak berlobang. Takutnya ketika mereka lari akan terperosok ke lobang,” katanya sambil menunjukkan sebuah kelas yang lantainya penuh lobang. Kalau memang Pemko komit untuk mengefektifkan program siaga tsunami, Murmainis minta selain teori, mereka juga diberi sarana dan prasarana. Seperti tenda, megaphone (pengeras suara), pelampung serat lainnya, serta perbaikan pada fasilitas sekolah. “Sehingga sewaktu terjadi bencana sarana dan prasarana itu bisa langsung dimanfaatkan. Tidak harus menunggu-nunggu,” pungkasnya. (pl6)

Komentar bertahan »

Pengaruh Schakel Society di Minangkabau

Selasa, 15 April 2008
Oleh : Yuhelmi Indra, Mahasiswa Sejarah Fakultas Sastra Unand
Indonesia merupakan sebuah negara yang besar yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan etnis, penjajahan yang terjadi di Indonesia yang dilakoni oleh Belanda membawa perubahan yang banyak untuk bangsa Indonesia yang besar ini. Perubahan itu meliputi segala aspek baik aspek kehidupan bermasyarakat maupun cara pandang masyarakat itu sendiri. Terlepas dari penjajahan Belanda atau dengan adanya proklamasi Indonesia sangat membawa perubahan yang signifikan bagi bangsa Indonesia . Baik dari segi ekonomi, cara pandang dan berfikir bangsa Indonesia.

Kondisi-kondisi struktural ini diperburuk oleh berbagai masalah sosial dan kultural, terutama ketegangan-ketegangan etnis dan agama yang secara potensial eksplosif dan mudah dipolitisir. Secara historis, ekonomi negara ini secara substansial kurang mendapat perhatian pada zaman Orde Lama (1945-1966), karena urgensi perjuangan-perjuangan pasca-kemerdekaan.

Perhatian Indonesia banyak dicurahkan kepada perjuangan melawan Belanda, yang kembali ke kepulauan ini antara 1945 dan 1949 guna menancapkan kembali kekuasaan kolonialnya. Energi bangsa juga terserap oleh konflik-konflik antar faksi di negara baru ini, khsusnya antara kekuatan-kekuatan komunis dan non-komunis di tahun-tahun terakhir pemerintahan Orde Lama. Indonesia sangat terkena dampak oleh dua ideologi dunia pada masa Perang Dingin: kapitalisme/liberalisme dan sosialisme/komunisme.

Sebagai sebuah negara eks-koloni yang sangat ingin mencicipi kebebasan, Indonesia sangat rentan terhadap hegemoni global Amerika. Negara ini mengadopsi sistem pemerintahan federal yang bertahan hidup sangat pendek yang dipaksakan oleh Belanda (1949-1950), dan kemudian mencoba sistem pemerintahan liberal (Demokrasi Parlementer (1950-1957)).

Minangkabau yang terletak di pantai barat pulau Sumatera dengan daerahnya mempunyai pantai selain daerah pedalaman, menyebabkan orang Minangkabau memberikan dua konsep pengertian tentang daerahnya, yaitu adanya konsep rantau dan darek. Rantau merupakan daerah perluasan dari Minangkabau asli dan darek adalah daerah inti dari Minangkabau, di daerah ini terdapat tiga luhak yaitu luhak agam, luhak tanah datar dan luhak lima puluh koto.

Dengan adanya dua konsep pengertian mengenai daerahnya orang Minangkabau itu pada hakikatnya adalah orang-orang bergerak, dapat dilihat dari suatu tradisi yang unik dalam masyarakat Minangkabau yaitu merantau. Inti dari merantau sebenarnya memang bergerak, yaitu perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Bagi orang Minangkabau merantau ini punya dua pengertian yaitu perantauan mental dan perantau fisik.

Pendidikan barat merupakan produk dari kebudayaan barat, karena salah satu dari isi kebudayaan itu yang secara universal adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan barat bersumber pada kebudayaan kesukuan Jerman dan agama yahudi Kristen. Pendidikan yang seperti inilah yang berkembang di barat.

Seiringan dengan diperkenalkannya pendidikan sekuler di Minangkabau pendidikan ini juga terbawa. Minangkabau yang daerahnya dan peduduknya telah lama mengenal dan menganut agama Islam sekarang berurusan dengan pendidikan barat, sekuler.

Akibat dari pendidikan yang diadakan di sekolah raja adalah munculnya orang-orang yang mulai terbuka pemikirannya terhadap berbagai kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Ilmu yang mereka dapat membuahkan cara-cara berpikir yang kritis pada mereka, terhadap lingkungan yang selama ini mereka diamkan saja. Dan juga terhadap adat istiadat yang telah lama melingkupi mereka dan kekuasaan Belanda, yang menguasai negeri mereka.

Sebelum munculnya golongan schakel society, di Minagkabau telah ada dan berkembang dua golongan yang sangat berpengaruh yaitu golongan adat dan kelompok keagamaan. Dengan munculnya golongan schakel society maka ia merupakan golongan ketiga dalam masyarakat Minangkabau. Golongan yang dalam waktu singkat dapat menjadi besar dan berpengaruh. Anggota dari golongan schakel society ini adalah gabungan antara golongan adat dan golongan keagamaan oleh karana itu kehadirannya begitu cepat dapat diterima oleh masyarakat Minangkabau.

Bagi penguasa kolonial kemunculan golongan ini diterima dengan baik, bahkan dibinanya. Selain bertujuan untuk mendapatkan tenaga-tenaga pegawai yang mrah dan hasil pekerjaan yang baik, juga bertujuan untuk menjadikan semacam pengurangan pengaruh dari kedua golongan yang terdahulu. Apalagi pengaruh dari golongan keagamaan.

Tujuan yang utama dari Belanda memupuk golongan schakel society ini adalah untuk mengurangi dominasi kekuatan golongan adat dan kelompok keagamaan dalam hidup dan kehidupan masyarakat Minangkabau. Mereka yang dididik dalam sekolah-sekolah Belanda seakan-akan diperbelanda dan pada mereka seakan-akan dilakukan suatu penipuan kebudayaan. Karena pada mereka diperkenalkan suatu keterasingan berbeda dan tidak bisa siterima dalam kehidupan barat dan juga berbeda dan tidak bisa diterima dari kehidupan asalbya.

Salah satu ciri dari golongan schakel society ini adalah bercirikan kekotaan, telah mengenal ekonomi uang dan pandangan yang bebas. Dengan ekonomi uang manusia terbebas dari keterikatannya pada tanah, mereka bebas berusaha, kebebasan telah berada ditangan mereka.

Dengan dikenalnya kebebasan langkah untuk mencapai kemerdekaan telah dimulai dirintis. Didapatnya kebebasan oleh golongan schakel society dalam lingkungan yang tidak begitu mau bersahabat dangan menerimanya karena pendidikan dan pola pemikirannya yang cenderung kebarat-baratan, dan oleh masyarakat barat yang mendidiknya menyebabkan dari golongan schakel society ini lahir ide dan paham yang baru, ide nasionalisme yang telah melingkup suatu wawasan yang jauh lebih luas dari lokal dan lingkungan yang mengasingkannya. Suatu lingkungan dalam skope nasional. Suatu paham yang sebelumnya tidak pernah menjadi pemikiran dari pemerintah Hindia Belanda.

Timbuhnya ide nasionalisme dari golongan schakel society ini tentu bukan karena ia tidak mendapat tempat kerja, rena ia the marginal man, tetapi juga dilatar belakangi oleh mulai timbulnya kasedaran dalam diri mereka, kesadaran akan rasa senasib sepenanggungan. Kesadaran karena sama-sama dijajah oleh orang lain.

Golongan schakel society yang telah mendapat pendidikan, telah mempunyai suatu cara berpikir yang sistematis merasakan dan melihat adanya kepincangan-kepincangan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang makin lama makin jelas. Juarang anatara sipenjajah dengan yang terjajah makin lama makin dalam, kemiskinan semakin menggayuti rakyat Indonesia . Orang-orang Minangkabau yang semula telah bekerja pada Belanda dan yang belum bekerja tetapi telah mendapatkan pendidikan akhirnya sadar, sadr akan harga diri mereka yang telah diinjak-injak oleh Belanda.

Mereka Islam, para penjajah itu kafir. Mereka diperbudak, tapi penjajah itu tinggal enak saja. Tenaga dan tanah rakyat dikuras. Rakyat menderita dan kemiskinan merajalela. Keuntungan-keuntungan pribadi yang semula muncul dalam pikiran kaum intelektual Minangkabau akhirnya berubah menjadi suatu usaha untuk mengangkat kembali harga diri mereka, untuk berusaha menumbangkan kekuasaan bangsa penjajah.

Usaha golongan schakel society ini pada mulanya tidak lebih dari suatu dasar, suatu usaha yang belum berarti untuk mendobrak kekuasaan kolonial yang terorganisir dengan baik. Mereka hanya merupakan embrio gerakan nasionalis yang tmbuh dalam masyarakat Minangkabau. Golongan ini telah meletakkan dasar dari pergerakan nasional, telah memunculkan ide yang bersifat nasional. Mereka golongan schakel society ini adalah ujung tombak dari proses persiapan kemerdekaan negara Republik Indonesia .

Pengaruh yang dibawa oleh golongan schakel society ini sangatlah besar, mereka mempunyai peran penting dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia . Namun, melihat Minangkabau saat ini terutama para pelajarnya yang sangat jauh berbeda dengan golongan-golongan schakel society yang kita banggakan itu. Apakah mungkin akan timbul kembali golongan-golongan terpelajar Minangkabau yang akan membawa perubahan besar bagi negara dan tanah Minangkabau ini? (***)

Komentar bertahan »